Kesra ›› Polisi: Aparat Keamanan tak akan Ditarik dari Pelauw

Polisi: Aparat Keamanan tak akan Ditarik dari Pelauw

Ambon - Wakapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kompol Suratno mengatakan, kendati kondisi di Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah (Mal­teng) telah aman, namun aparat keamanan tidak akan ditarik, tapi akan terus melakukan pengamanan disana.

“Untuk pengamanan masih akan tetap dilakukan dan belum ada ke­pas­tian kapan pasukan akan di tarik,” katanya kepada wartawan di Mapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Senin (20/2).

Selain upaya-upaya perdamaian gencar dilakukan di Pelauw, akan tetapi pihaknya juga tetap mengupa­yakan penegakan hukum tetap berlangsung. “Jadi penyelesaian per­damaian, rapat-rapat dan kese­pakatan damai itukan tidak menga­burkan dan menghapuskan pene­gak­an hukum. Perdamaian tetap jalan, begitu juga penegakan hukum juga tetap jalan,” tandas Suratno.

Lebih lanjut dijelaskan, kasus bentrok antar sesama warga Pelauw ini, Polsek Haruku dan jajarannya telah diperintahkan Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKBP Suharwiyono untuk melaku­kan penyelidikan terkait kasus tersebut.

“Keadaan di Pelauw aman. Tetapi, Kapolres sudah memerintahkan untuk dilakukan upaya penyelidi­kan,” tegasnya.

Hingga kini, beber Suratno, tim masih bekerja, sehingga belum dapat diketahui proses penyelidikan itu sudah berjalan sampai di mana. “Kita tunggu saja, karena kasus ini masih dalam tahap penyelidikan,” ujarnya.

Menyangkut kondisi pengungsi yang ditakutkan sewaktu-waktu dapat mengganggu stabilitas keamanan di sana, Wakapolres menambahkan, sampai saat ini warga yang mengungsi di beberapa desa tetangga belum mau kembali ke negerinya.

“Untuk pengungsi belum juga kembali dan masih ada di beberapa tempat seperti di Rohomoni, Kailolo dan Kulur,” tutur Suratno.

Sebelumnya diberitakan, Ka­polda Maluku, Brigjen Polisi Syarief Guna­wan mengaku, pihak­nya selalu ber­upaya untuk mela­kukan pendekatan dengan masya­rakat di Pelauw.

“Dalam kunjungan kerja saya ke Pelauw, saya sudah instruksikan kepada anak buah saya di Pelauw tingkatkan hubungan dengan warga. Jika mereka meminta bantuan mung­kin pengamanan atau apa, harus dibantu dan jangan pernah menjauhi masyarakat,” katanya kepada Siwalima di Mapolda Maluku, Kamis (16/2).

Kasus bentrok antar sesama warga Pelauw ini menyisahkan luka yang mendalam. Pasalnya, akibat bentrokan, tujuh nyawa melayang, puluhan luka-luka dan ratusan rumah warga ikut terbakar.

Pemerintah tak Serius Tuntaskan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku maupun Pemerintah Kabu­paten Maluku Tengah (Malteng) selama ini dinilai kurang serius menuntaskan berbagai akar masalah antar negeri di Kabupaten Malteng.

“Kita berharap sama dengan tuntutan masyarakat, ya kita mendo­rong pemerintah daerah segera menuntaskan hasil-hasil kesepa­katan yang sudah sering kita laku­kan. Tapi sering kali pertemuan-per­temuan yang dimediasi oleh Mus­pika, hasilnya apa, ketika disampai­kan ke Pemkab dan diteruskan ke Pemprov, tidak pernah ditindak­lanjuti. Ini berarti pemerintah tidak serius,” sesal Suratno.

Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu, terjadi bentrokan antar warga Porto dan Haria, di mana polisi telah berupaya mendamaikan, sayangnya Pemkab Malteng tidak meresponi keinginan dan tuntutan masyarakat.

Padahal, lanjutnya, masyarakat di Maluku, khususnya di wilayah Malteng juga berkeinginan untuk bisa hidup damai dan berdampingan satu dengan yang lain. “Masyarakat mau seluruh potensi konflik itu diselesaikan, tapi akar masalahnya yang tidak diresponi pemerintah daerah,” jelasnya.

Dikatakannya, saat ini kondisi keamanan pada wilayah-wilayah negeri perbatasan boleh-boleh saja aman, tetapi jika berbagai akar ma­salah tersebut tidak segera disele­saikan, maka akan menjadi bom waktu di kemudian hari. (S-35)



Berita Terkait