Kriminal ›› Aspidsus: Keberadaan Dua Buronan Korupsi Masih Dilacak

Aspidsus: Keberadaan Dua Buronan Korupsi Masih Dilacak

Ambon - Pihak Kejati Maluku terus melacak keberadaan dua buronan kasus korupsi yang hingga kini belum ditangkap. Mereka adalah Direktur Pelori Karya Utama, M. Jhon Latu­consina dan mantan Kadis Perhu­bungan dan Informasi Kabupaten SBB, Irwan Patty. 

Latuconsina kurang lebih delapan bulan dimasukan dalam daftar pencarian orang (DPO). Ia divonis empat tahun penjara oleh MA atas ke­terlibatannya dalam kasus  ko­rupsi proyek pengadaan alat-alat laboratorium pengawetan di Poli­teknik Negeri Ambon tahun 2009.

Sedangkan Irwan Patty kurang lebih satu tahun menjadi DPO. Tak lama setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan kapal patroli di Dishub Kabupaten SBB tahun 2008 senilai Rp5,2 miliar, yang teriindikasi merugikan negara Rp1,3 milyar, Patty memilih kabur.

 “Kami tidak akan meloloskan mereka sehingga kami akan terus melakukan koordinasi dengan Keja­gung agar dapat melacak keberada­an kedua buronan ini,” kata Aspid­sus Kejati Maluku, Benny Santoso kepada Siwalima, di ruang kerjanya, Jumat (8/11).

Santoso mengatakan, Latuconsi­na dan Patty juga telah dimasukan dalam Daftar Media Centre Keja­gung, sehingga keberadaan mereka bisa dilacak.

“Kita sudah masukan mereka dalam Daftar Media Centre sehingga keduanya bisa segera ditangkap,” ujar Santoso.

John Latuconsina diseret ke PN Ambon karena dituduh melakukan tindak pidana korupsi dalam anggaran proyek pengadaan alat-alat laboratorium pengawetan di Politeknik Negeri Ambon tahun 2009.

Selaku pemenang tender, terdak­wa dalam kontrak kerja harus me­nyelesaikan pekerjaan Desember 2009, namun hingga tutup tahun anggaran proyek senilai Rp616.­000.000 itu tak kunjung selesai.

Pada 27 November 2009 Latucon­sina mengajukan permohonan perpanjangan waktu pelaksanaan proyek ke Direktur Politeknik saat itu, Hendrik Dominggus Nikijuluw. Sehingga keluarlah addendum untuk perpanjangan waktu pelaksanaan hingga 31 Maret 2010. Namun dalam tenggang waktu itu, jaksa menyeret Latuconsina ke pengadilan.

JPU Iwan Gustiawan menuntut terdakwa dengan hukuman enam tahun penjara. Tetapi majelis hakim yang terdiri dari Arthur Hangewa selaku ketua, dan Glenny de Fretes dan Sabar Simbolong sebagai hakim anggota menjatuhkan vonis bebas kepada yang bersangkutan.

Majelis hakim dalam pertimba­ngan hukumnya berpendapat, terdakwa tidak terbukti melakukan korupsi anggaran proyek peralatan laboratorium Politeknik Negeri Ambon.

Kejari Ambon kemudian mengaju­kan kasasi, dan MA menjatuhkan vonis empat tahun penjara bagi Latuconsina. (S-16)



Berita Terkait


Ambon