Daerah ›› Deforestasi Jadi Masalah Utama Warga Seram Utara

Deforestasi Jadi Masalah Utama Warga Seram Utara


Ambon - Deforestasi kawa­san hutan menjadi perma-salahan uta­ma dari warga yang ada di Kecamatan Seram Utara, Kabu­paten Malteng.

Hal tesebut di­sam­paikan Sekre­taris AMGPM Dae­rah Seram Utara, Yondri Paays pada paparannya saat study meeting Ko­ng­res AMGPM XXVII di Gereja Imanuel, Ama-husu, Minggu (25/10) dengan tema “Deforestasi dan Penguatan Hak Masyarakat”.

Ia mengatakan, warga Seram Utara meng-ganggap ling-kungan Pulau Seram sebagai rumah dan ruang hidup bersama dan dengan rusaknya alam sekitar, turut mengakibatkan rusaknya seluruh tatanan hidup bersama.

“Yang menjadi perhatian misalnya kehadiran perusa­haan besar yang menga­baikan hak masyarakat lokal. Salah satu PT Talisan Mas yang sekarang mengusai 65.057 hektar milik rakyat. Namun dalam pelaksa­naanya, pe­ng­gu­naan tidak untuk pengelolaan hutan produksi untuk perkebunan seperti dalam izin yang dikantongi melainkan melakukan prak­tek ilegal loging dan ini me­rupakan bentuk kebohongan kepada masyarakat,” kata­nya.

Selain itu, menurutnya perkebunan kelapa sawit oleh PT Nusa Ina Grup sejak 2006 telah mengalami perluasan kawasan diluar Amdal yang telah disepakati dan limbah produksi telah menjadi masalah serius. “Akibat lainnya debit air tanah yang menurun, pencemaran sungai, serta keretakan tanah di musim kemarau yang tak bisa lagi dicegah,” ungkapnya.

Dijelaskan, masalah trans­migrasi juga menjadi per­masalahan serius di Seram Utara. “Akibat me­ningkatnya mobilitas dan jumlah pen­duduk termasuk kehadiran trasmigran di Seram utara mempengaruhi permintaan akan lahan sehingga meng­akibatkan deforestasi. Misal­nya saja di Kobisonta, sejauh mata memandang hanya terlihat bentangan sawah  dan transmigran menguasai lahan-lahan nomor satu,” jelasnya

Akibatnya, kata Paays,   pertumbuhan penduduk lokal sangat minim, pertumbuhan eko­nomi lamban dan kondisi sosial yang sangat mem­prihatinkan.

“Yang perlu waspadai adalah rencana pembukaan lahan baru transmigrasi di wilayah target baru dan  penambahan transmigran oleh perusahan perkebunan dengan kedok sebagai pekerja padahal masyarakat lokal tidak diberdayakan,” katanya.

Sementara itu, Pendeta Izak Lattu dalam paparannya mengatakan permasalahan deforestasi hutan yang ter­jadi sekarang, terjadi karena adanya lingkaran dominan hasil perselingkuhan pe­ngua­sa, pengusaha dan kekuatan militer.

“Deforestasi hutan di Ma­luku sangat memprihatinkan mengingat luas daratan Maluku yang hanya seluas 5.410.500 Ha berdasarkan penelitian dari  Semuel Limba telah mengalami defo­restasi sebesar 59 persen dan pe­nye­babnya antara lain karnea dominasi pemerintah, partisi­pasi mas­yarkat yang lemah, kurangnya sarana pembe­la­jaran kearifan lokal, le­mahnya akuntabilitas pengambila ke­bijakan serta lemahnya noni­toring dan evalusi,” katanya.

Deforestasi hutan, menu­rutnya merupakan bentuk kekerasan karena dilakukan kekerasan langsung kepada lingkungan.

“Tugas gereja adalah ber­pihak pada korban-korban kekerasan ermasuk keke­rasan hutan. Gereja harus mampu mengahadapi peng­uasa dan pengusaha yang merugikan rakyat. Bila gereja belum mampu maka gereja belum bertanggungjawab se­cara baik dalam pelaksanaan tugasnya,” ungkapnya Lattu

Di tempat yang sama, Jem­my Pietersz, yang juga salah satu pemateri dalam study meeting tersebut menyebut­kan selama ini posisi mas­yarakat dalam hukum sampai saat ini masih berada diba­wah tekanan negara yang kadang terlalu menekan dalam hal-hal tertentu.

“Masyarakat sebe­narnya memiliki hak adat dalam kepemilikan tanah dalam bentuk oral, yakni dalam kapata-kapata, tetapi akhirnya harus diabaikan karena pe­merintah selalu melegitimasi hak secara tertulis padahal kapata meru­pakan sejarah tutur yang tak bisa diabaikan. Banyak per­ma­salahan defo­restasi ka­rena pemerintah mengklaim tanah masyarakat adat tidak ada bukti legitimasi,” jelasnya

Kedepan ia berharap AMG­PM bisa mem­berikan pema­haman hukum ke masyarakat adat supaya tidak lagi dibodohi oleh dalam penggu­naan hak-hak ulayat. (S-42)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon