Kesra ›› Ditelantarkan, Penumpang Express Bahari Ngamuk Syahbandar Tulehu Nyaris Dipukul

Ditelantarkan, Penumpang Express Bahari Ngamuk

Ambon - Sejumlah penumpang KM Express Bahari 1 jurusan Tulehu-Pelabuhan Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Jumat (24/2), ngamuk di Pelabuhan Tulehu, Ke­camatan Saluhutu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), akibat ditelantarkan hampir satu jam.

Amukan para penumpang Kapal Express Bahari 1 yang sehari-harinya melayari rute Tulehu -Pelabuhan Haria Kecamatan Saparua ini, di­akibatkan Syahbandar setempat tidak menge­luarkan izin berlayar, dengan alasan melebihi kapasitas angkut.

Pantauan Siwalima di lokasi kejadian, bebe­rapa penumpang turun dari kapal, langsung menanyakan Sya­h­ban­dar Tulehu, H Tua­sun yang bera­da di pela­buhan aki­bat me­reka dite­lan­tarkan.

Menurut Tuasun, kapal belum diizin­kan berangkat kare­na pe­num­pang me­le­bihi ka­pasitas ang­kut. Pada­hal ke­nyataannya tem­­pat duduk Expres Ba­hari 1 masih terlihat kosong.

Mendengar penjelasan tersebut, sejumlah pe­numpang kemudian meminta Syahbandar agar segera memeriksa penumpang yang sudah be­rada di dalam kapal agar bisa diberangkatkan, namun kembali Tuasun berdalih  sementara me­nunggu daftar penumpang dari pihak kapal.

Hal ini membuat para penumpang berang sehingga terjadilah adu mulut dengan Tuasun,  bahkan nyaris Syahbandar dipukul oleh penum­pang. Beruntung kondisi yang sudah me­manas ini dapat direndam.

Sejumlah anggota TNI maupun pihak KPPP yang berada di lokasi kejadian, langsung mengamankan situasi dan membawa pergi Tuasun. Sementara itu, menurut penuturan sejumlah penumpang, Kapal Express Bahari 1 sesuai jadwal sedianya berangkat pukul 09.00 WIT, namun entah kenapa ditelantarkan hampir satu jam, sehingga keja­dian ini membuat mereka bingung.

Sementara menyangkut kelebi­han kapasistas angkut, penum­pang menuturkan hal itu sudah biasa terjadi, tapi entah kenapa ketika ada salah satu pasangan calon kepala daerah Kabupaten Ma­luku Tengah (Malteng) yang akan melaksanakan deklarasi di Saparua yang  juga menggunakan kapal tersebut, justru diperhambat keberangkatan dan ditelantarkan.

“Biasanya kalau Natal, Tahun Baru atapun Idul Fitri penumpang sangat sesak dan melebihi kapa­sitas dan pihak Syabandar tetap mem­berangkatkan kapal, kenapa sampai hari ini baru mereka tega­kan aturan. Sebenarnya ada apa, kita sudah sangat jenuh di dalam kapal apalagi AC kapal juga rusak makanya hampir seluruh penum­pang naik duduk di bagian luar,” ungkap beberapa penumpang.

Setelah kejadian tersebut, justru kembali terjadi ketegangan, pasal­nya wartawan TVRI Ambon, Otis Kotadini yang meliput kejadian ini, malah dilarang salah satu anggota KPPP Tulehu untuk meliput dan gambar yang telah direkam mesti dihapus.

Sontak Kotadini naik pitam dan balik menanyakan kepada polisi ter­sebut alasan apa hingga me­larang dirinya meliput. “Kenapa bapak larang, tahu undang-undang tidak. Kapolri saja tidak pernah larang, apalagi bapak?,” tanya  Kotadini dengan beberapa wartawan lainnya yang ada di tempat tersebut.

Kondisi ini menyulut emosi Kotadini dan beberapa wartawan lainnya yang saat kejadian berada di lokasi tersebut. Akan tetapi buru-buru salah satu rekan anggota KPPP Tulehu kemudian membawa oknum polisi yang tidak tahu aturan ini. (S-34)



Berita Terkait


Ambon