Kesra ›› DPRD Malteng Perintah Pemkab Tuntaskan Data Pengungsi

DPRD Malteng Perintah Pemkab Tuntaskan Data Pengungsi

Ambon - DPRD Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) menginstruksikan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malteng segera menuntaskan data jumlah pengungsi warga Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Malteng.

Ribuan warga Pelauw saat ini mengungsi di sejumlah negeri diantaranya Rohomoni, Kailolo, Dusun Ori, dan Negeri Kariu menyusul bentrok antar warga Pelauw pada Rabu (8/2) malam, yang berlanjut pada Jumat (10/2) malam.

“Kita telah memintakan agar mereka segera melakukan pendataan dan merincikan berapa banyak pengungsi maupun rumah-rumah warga yang rusak baik rusak total, rusak ringan maupun rusak berat termasuk menginvetarisir titik-titik keberadaan pengungsi termasuk juga yang saat ini mungkin sementara mengungsi di Kota Ambon dan sebagainya,” tandas  Ketua DPRD Kabupaten Malteng, Azis Mahulette kepada wartawan, usai melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) bersama dengan Pemprov Maluku, yang berlangsung secara tertutup di Lantai II Kantor Gubernur Maluku, Kamis (16/2).

Dikatakan, pengalokasian anggaran akan segera dibahas, setelah Pemkab Malteng mendata pengungsi maupun rumah warga Pelauw baik yang rusak total, berat maupun rusak ringan. 

“Kita tetap konsern untuk menyelesaikan hak-hak pengungsi, dan nantinya akan segera dibahas jika Pemkab sudah selesai melakukan inventarisir termasuk alokasi anggaran nantinya dan kita akan mensupportnya,” kata Mahulette.

Sebelumnya diberitakan, Pemkab Malteng hingga kini belum juga memiliki data pasti soal jumlah pengungsi maupun rumah warga Pelauw yang rusak total, be­rat dan rusak ringan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tengah (Malteng) hingga kini belum juga memiliki data pasti soal jumlah pengungsi maupun rumah yang rusak total, be­rat dan rusak ringan, aki­bat bentrok antar sesama warga Negeri Pelauw.

Amburadulnya data pengungsi, akan menghambat penanganan para pengungsi.

Kepala Badan Penang­gulangan Bencana Alam Kabupaten Malteng, M La­tu­consina, yang dikonfirma­si Siwalima, Rabu (15/2), mengaku, pihaknya masih melakukan pendataan.

”Saya belum rekap semua. Di Rohomoni itu ada 668 jiwa, di Kailolo ada 1.333, belum di Ori dan di lain-lain tempat,” ungkap Latuconsina.

Polisi Terus Upayakan Pendekatan

Di tempat terpisah, Kapolda Maluku, Brigjen Polisi Syarief Gunawan mengaku, pihaknya selalu berupaya untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat di Pelauw. “Dalam kunjungan kerja saya ke Pelauw, saya sudah instruksikan kepada anak buah saya di Pelauw tingkatkan hubungan dengan warga. Jika mereka meminta bantuan mungkin pengamanan atau apa, harus dibantu dan jangan pernah menjauhi masyarakat,” katanya kepada Siwalima di Mapolda Maluku, Kamis (16/2).

Ia mengatakan, warga Pelauw saat ini harus dipulihkan dari trauma berat yang mereka alami beberapa waktu yang lalu. Karena itu jenderal bintang satu ini berharap ada dorongan dari pihak terkait utamanya peran tokoh-tokoh agama untuk menguatkan masyarakat di negeri adat tersebut.

“Kalau cuma berharap aparat keamanan dalam hal ini polisi dan TNI saya kira masyarakat di sana butuh pemulihan utamanya dari tokoh-tokoh agama. Kehidupan mereka di tempat-tempat peng­ungsian itu jauh lebih rentan ketimbang di rumah atau di kedia­-man mereka. Sehingga perintah saya bagi anak buah di sana, terus upayakan pendekatan dengan masyarakat,” ungkap Kapolda.

Kapolda ini juga meminta Pemerintah Provinsi Maluku utamanya Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) untuk tidak mengabaikan kondisi masyarakat Pelauw.

“Menyelesaikan kasus Pelauw ini harus libatkan semua aparat terkait. Tidak bisa hanya dari sisi keamanan. Kondisi masyarakat benar-benar prihatin dan membutuhkan uluran tangan para pihak terkait. Makanya itu saya menghimbau karena pelauw beragama Muslim harus ada pendekatan agama. Peran MUI sangat penting untuk pulihkan masyarakat di sana,” ujar Kapolda.

Mantan Wakil Kepala Brimob Polri ini berharap, warga Pelauw ke depan nantinya dapat hidup damai, tidak ada lagi permusuhan satu dengan yang lain, hidup saling mencintai dan mengasihi serta hilangkan kebencian karena dengan dendam dan kebencian itu akan membawa kesengsaraan bagi warga Pelauw sendiri.

“Hilangkan semua keinginan unuk bentrok, tetapi hiduplah dalam kedamaian. Di sana itu keluarga antara yang satu dengan yang lain. Jangan lagi ada dendam pikirkan masa depan anak-anak dan juga kehidupan yang akan datang,” himbau Kapolda. (S-16/S-32)



Berita Terkait


Ambon