Daerah ›› Duta Anak Asean Untuk Indonesia Kunjungi Pabrik Roti Sarinda

Duta Anak Asean Untuk Indonesia Kunjungi Pabrik Roti Sarinda

Ambon - Terkesima dengan kelebihan dari Gayatri Wailissa Duta Anak Asean untuk Indonesia yang mengusai 11 Bahasa asing serta mencintai dunia anak ini yang juga merupakan siswi kelas XI SMA Siwalima Ambon, akhirnya Direktur Fa Sarinda Rudy P Kusno mengundang duta anak tersebut ke prusahaan miliknya yang terletak di Jln Rijali Ambon.

Gayatri yang saat ini dibawah manajemen ‘Pucuk Daun’ ini tiba diperusahaan tersebut didampingi oleh Ketua ‘Pucuk Daun’ Lantara Habir serta dia anggota tim ini dite­rima langsung oleh Direktur Fa Sarinda diruang kerjannya, didam­pingi Direksi Manager Pieter, Sabtu (3/10).

Direktur Fa Sarinda Rudy P Kusno, mengaku dirinya bangga se­bagai anak Maluku saat men­dengar bahwa salah satu putri terbaik Ma­luku terpilih menjadi Duta Anak Asean untuk Indoensia, selain itu­pula dirinya juga terkesima dengan kelebihan dari Gayatri yang dapat mengusai 11 bahasa asing diusianya yang beru genap 16 tahun.

“Saya sangat terkesima dengan Gayatri saat membacanya dimedia massa, sehingga saya langsung mengundangnya diperusahaan saya hari ini untuk melihat dan mendegar secara langsung perjuangannya,” ungkap Direktur Fa Sarinda dlaam pertemuan itu.

Menurutnya, jarang sekali anak Maluku seusia Gayatri bahkan Indonesia mempunyai kelebihan se­perti ini dan ini merupakan satu anu­gerah besar yang diberikan Tuhan bagi Gayatri dan keluargannya. Selain itu Gayatri ini merupakan salah satu anak Maluku yang dapat membanggakan Maluku di tingkat nasional maupun Dunia Interna­sional.

Oleh sebab itu, apa yang diutara­kan Gayatri dalam pertemuan ini dirinya akan mengambilnya sebagai satu modal pembelajaran dan motivasi bagi anak-anaknya nanti khusunya serta anak-anak Maluku pada umumnya.

“Anak-anak Maluku harus mencontohi semangat Gayatri yang pantang menyerah, mempunyai kemauan keras sehingga anak-anak Maluku dapat dikenal di dunia Internasional,” ujarnya  

Menurutnya, untuk mempelajari bahasa asing itu tidak mudah, apalagi sampai mengusai 11 bahasa seperti ini, bahkan dirinya yang tinggal di Amerika selama 7 tahun saja, namun bahasa Inggrisnya masih banyak yang harus diperbaiki, olehs ebab itu Gayatri harus diambil sebagai contoh kedepannya oleh anak-anak Maluku sebagai generasi penerus daerah maupun bangsa Indonesia kedepannya.  

Pada kesempatan itu Gayatri sendiri mengaku, dirinya cukup kaget ketika diundang oleh pihak Fa Sarinda. Pasalnya dirinya tidak me­nyangka kalau yang mengun­dang­nya adalah, pimpinan pabrik roti terbesar di Maluku yang juga meru­pakan salah satu makanan favorit­nya hingga saat ini, salah satunya Roti Kaya.

“Saya terlahir dari tiga bersaudara dan berasal dari latar belakang keluarga yang sederhana karena ayah saya seorang PKL. Saya mulai menginjakan pendidikan dasar pada SDN 19 Waihaong setelah lulus kemudian masuk SMPN 2 Ambon dan saat ini masih duduk dibangku kelas XI pada SMA Siwalima,” kata Gayatri.

Dijelaskan, pada tahun 2012 ini, dirinya mulai go internasional, setelah terpilih sebagai delegasi tung­gal Indonesia dari Komisi Per­lindungan Perempuan dan Aanak (KPPA) mewakili 33 provinsi yang ada di Indonesia. Setelah terpilih sebagai delegasi tunggal dirinya berangkat ke Bangkok Thailand untuk mengikuti regional workshop CIC. Dalam konfrensi inilah dirinya bertemu dengan delegasi dari negara-negara asean termasuk Asian Three Country yakni, Jepang, Korea Selatan dan China.

“Saat saya terpilih seperti tidak percaya karena jika saya bandingkan perwakilan provinsi lain dengan saya dari Maluku sama sekali mereka diatas saya, karena mereka ini berasal dari kota-kota besar, namun karena berkat Tuhan saya terpilih mewakili Indonesia,” ujarnya.

Dikatakan dalam konfrensi di Bangkok Thailand tersebut dirinya tidak meresa canggung karena di Ambon sendiri dirinya juga berga­bung dalam komunitas anak kemu­dian di tingkat pusat bersama Forum Anak Nasional (FAN), sehingga pengalaman-pengalaman inilah yang dipakai saat melakukan debat tentang anak dalam konfrensi ini.

Yang Lucunya kata Gayatri, pada saat dirinya memperkenalkan diri sebagai  delegasi dari Indonesia dan menyatakan umurnya 16 tahun dan masih duduk dibangku kelas XI SMA, seluruh peserta yang hadir dalam konfrensi debat itu tidak percaya. Lewat bakat dan kelebihan dirinya tersebut dalam forum itu maka dirinya diberi gelar penghar­gaan DR Gayatri Wailissa, MH, MLi, 

Dijelaskan, dirinya memilih untuk belajar bahasa asing, karena dulu hobinya adalah menonton TV dan mendengar lagu namun standarnya adalah lagu-lagu asing. Belajar bahasa asing ini sendiri dilakukan Gayatri secara otodidak serta mengikuti pelajaran Bahasa Inggris disekolah seperti anak-anak yang lain selain menggunakan media buku serta internet.

“Belajar bahasa asing itu tergan­tung dari kemauan kita. Saya kalau dirumah waktu SD kelas 4 biasanya satu hari menghafal 4-5 kata dan sekarang diumur saya yang 16 tahun sehari saya hafal 30 kata dari setiap bahasa dan biasanya saya men­cobanya dirumah didepan cermin dan modal saya untuk belajar bahasa ini hanya Rp 10-12 ribu untuk beli kaset seperti Tom and Jerry, selain saya juga gunakan internet,” ungkpanya.

Hal yang paling membanggakan dirinya menurut Gayatri, adalah pada saat di Thailand seluruh peserta menanyakan kepadanya apakah di Indonesia seluruh anak belajar semua bahasa dan saat itu dirinya mengatakan iya, walaupun kenya­taannya tidak. Dirinya harus menga­takan demikian karena hal itu merupakan tolak ukur di negara luar bahwa anak Indonesia juga perlu diperhitungkan.

Gayatri sendiri mengaku sangat prihatin dengan generasi muda Maluku saat ini karena daerah ini serta bangsa Indoensia tidak akan maju jika generasinya belum siap, belum lagi ambisi dari generasi tua yang masih saja tidak mau melepas jabatan-jabatan mereka disegala bidang.

Saya ingins ekali berftemu dengan anak-anak Maluku untuk memberi­kan motivasi bagi mereka untuk meraih masa depan. Pada intinya bahasa itu bukan merupakan inti dari mata pelajaran tetapi bahasa adalah media pemersatu. Untuk mengusai satu bahasa itu ada lima poin 1. Kemauan, karena jika seseorang sudah tertarik dibidang bahasa maka dirinya tetap akan mempelajarinya, namun jika tidak punya kemauan maka sama saja, kedua, jangan pernah takut salah, ketiga, untuk mengusai satu bahasa kuncinya adalah kuasai kata bukan tata bahasa, karena jika mengusai kata maka akan dapat menguasai tata bahasa, seteklah mengusai ini maka pengusacapan akan dapat dilakukan keempat, harus berpikir positif,

“Saya banyak ditawarin pekerjaan oleh perusahaan-perusahaan besar di Jakarta dan beberapa daerah lain diluar Maluku namun saya  tidak akan melepas Kota Ambon Manise ini, selain itu juga karena di indoensia umur saya masih anak-anak sehing­ga tidak bias untuk dipekerjakan sesuai dengan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlinduangan anak,” ujarnya.

Saat ditanya pada saat pemberian gelar Dokter serta Master Hukum dan Ahli Bahasa yang diberikan kepadanya di Thailand itu dalam satu upacara besar, Gayatri menan­daskan, pemberian gelar kepada dirinya tersebut tidak dalam sartu upacara namun diberikan oleh orang-orang Thailand itu sesuai dengan kemampuan dirinya yang ditonjolkan dalam konfrensi debet tingkat Asean yang diselengga­rakan di Negara tersebut.

Sementara pembagian waktu sebagai Duta Anak Asean dengan Sekolah sendiri, Gayatri mengatakan, pihak sekolah sangat memahami keberadaan dirinya sebagai Duta Anak Asean untuk Indoensia, namun dengan begitu dirinya juga tetap melakukan aktivitas sekolah seperti biasa dan tinggal bersama teman-teman di Asarama sekolah tersebut, namun saat hari Sabtu dan Minggu aturan sekolah mengijinkan keluar maka waktu itulah yang saya gunakan untuk menghadiri beberapa acara serta membuat lapoaran mengenai perkembangan anak-anak di Maluku dan indonesia pada umumnya yang nanti akan dilaporkan pada saat pertemuan duta anak se-Asean pada tahun 2013 mendatang.

“Saya ingin beri pesan buat anak-anak Maluku, gar dapat menjadi pandai janganlah banyak komsumsi makanan cepat saji seperti mie instan dan lainnya namun rajinlah meng­konsumsi roti itu lebih baik,” pintanya.

Dalam pertemuan itu Gayatri juga sempat mempertunjukan kebole­hannya dalam menguasai bahasa asing seperti, Bahasa Spanyol, Prancis, Italia, Inggris, Jerman, Belanda, Mandarin, Thailand, Korea, Jepang dan India. Selain itu Gayatri juga menunjukan kebole­hannya dalam menerowang kehidu­pan Direktur Fa sarinda bersama wartawan yang hadir saat itu lewat kemampuan telepatinya, sehingga membuat semua yang hadir saat itu kagum dengan kelebihannya.

Diakhir pertemuan tersebut Direktur Fa Sarinda Ambon mem­berikan bantuan berupa uang tunai bagi Gayatri dan Tim Pucuk Daun untuk mengembangkan ke­giatan mereka demi memperjuangkan hak-hak anak di Maluku.

(S-21)



Berita Terkait


Ambon