Kesra ›› Empat Jenderal Mendadak ke Ambon Sikapi Bentrok Berdarah di Pelauw

Empat Jenderal Mendadak ke Ambon

Ambon - Empat jenderal polisi mendadak mengunjungi Ambon, Selasa (14/2). Kedatangan mereka berkaitan dengan bentrok berdarah antar kelompok warga di Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Keempat jenderal tersebut ma­sing-masing Wakil Kepala Kepo­lisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Nanan Soekarna, Kepala Badan Pemeliharaan Ke­amanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Polisi Imam Sudjarwo; Asisten Opera­sional (As Ops) Kapolri, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Badrodin Haiti dan Direktur Bimbingan Masyarakat (Binmas), Baharkam Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi M Iriawan.

Mereka menggunakan pesawat khusus milik Polri dengan kode registrasi P-8001, dan  tiba di Ban­dara Internasional Pattimura Ambon sekitar pukul 12.45 WIT.

Wakapolri Komjen Polisi Nanan Soekarna mengaku kunjungannya ke Ambon ada kaitannya dengan bentrok antar sesama warga di Negeri Pelauw.

“Memang Polda Maluku masuk daftar kunjungan kerja saya hari ini (kemarin-red) selain Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Polda Sula­wesi Utara (Sulut). Selain itu juga kunjungan saya ke sini punya kaitan­nya dengan kasus Pelauw juga,” ungkap Nanan kepada warta­wan di Mapolda Maluku Batu Meja Ambon, Selasa sore.

Menurut mantan Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, pena­nganan kasus Pelauw tidak hanya dilakukan unsur kepolisian saja, melainkan harus melibatkan seluruh komponen baik TNI, Polri, pemerintah daerah, pemuka agama, pemuka masyarakat, pemuda dan lain-lainnya.

“Kalau kasus Pelauw hanya me­ngandalkan polisi, maka tidak akan ada penyelesaian. Olehnya saya instruksikan kepada semua pihak yang mencintai Pelauw untuk be­kerjasama membantu polisi kembali pulihkan Pelauw,” tandas Nanan.

Saat disinggung tentang pena­nganan polisi yang lambat dan ter­kesan ada upaya pembiaran dalam kasus bentrok di Pelauw, Nanan menegaskan, tidak ada yang ter­lambat, justru polisi sudah mena­nganinya sejak tahun 2007 dengan berupaya secara preventif dan preemtif.

Ia juga menepis tudingan polisi tidak melakukan penegakan hukum dalam kasus Pelauw. “Harapan kita tentunya kasus ini dapat cepat selesai. Tapi faktanya kasus Pelauw itu sudah lama sejak 2007. Nah jangan polisi terus-terus disalahkan. Penyelesaian konflik seperti ini saya pikir kita mestinya libatkan semua komponen dalam hal ini aparat terkait. Polisi disamping penegakan hukum juga menjalankan misi per­polisian masyarakat. Kondisi Pe­lauw kan masyarakat Maluku lebih tahu dari pada kita di Jakarta. Akar penyelesaiannya harus bagaimana, ya semua harus dilibatkan. Guber­nur, Bupati dan aparat terkait ikut turun tangan dan bersatu menye­lesaikan, itu kuncinya,” ujar Nanan.

Meski demikian, Nana Soekarna tidak menampik kasus Pelauw ada pihak lain yang ikut bermain. Tanpa menyebut siapa aktornya, namun jenderal bintang tiga ini menan­daskan tentunya ada pihak-pihak yang menerima untung dalam kasus ini pun kasus-kasus semacamnya di Maluku.

Sebagaimana diketahui, setelah kondusif, pasca bentrok pada Rabu (8/2) malam lalu, bentrok antar sesama kelompok warga Negeri Pelauw kembali pecah pada Jumat (10/2).

Informasi yang dihimpun Siwa­lima, bentrok yang terjadi sekitar pukul 19.45 WIT antara warga kampung depan (pro raja) dengan warga kampung belakang (kontra raja) Negeri Pelauw itu, menye­babkan enam orang tewas, enam orang luka-luka serta ratusan rumah terbakar.

Bentrokan berdarah itu berawal, ketika saat salah satu warga Pelauw bernama Hasan Ali Angkotasan dalam perjalanan pulang melihat sapinya di kampung belakang  menuju rumahnya di kampung depan, tiba-tiba diserang dengan menggunakan panah dan batu oleh Orang Tak Dikenal (OTK).

Akibat luka-luka yang dideritanya cukup serius, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tulehu sekitar pukul 22.00 WIT untuk mendapatkan perawatan intensif.

Peristiwa ini, kemudian berlanjut dengan saling serang antara kelompok warga kampung depan dan kampung belakang, dengan menggunakan bom rakitan, maupun senjata tajam lainnya.

Akibat aksi saling serang itu, sedikitnya enam orang kehilangan nyawanya. Mereka yang tewas masing-masing, Saharaan Alim Sahubawa (60) dan Abdullah Rakib Latupono (69) yang berprofesi sebagai petani, Syarifudin Tualepe (48) yang merupakan dosen SPM Waiheru, Cumba Guru Tuelepe (22) yang sehari-hari sebagai tukang ojek, Bakri Talaohu (22) yang adalah pengangguran dan Hamin Nurlete (18) seorang siswa SMA.

Sementara korban luka-luka ma­sing-masing Hasan Ali Angkotasan (47) yang mengalami luka robek pada dahi sebelah kiri dan perut akibat terkena panah dan lemparan batu, Muhammadin Latuconsina (60) mengalami luka pada telapak kaki kanan yang hampir putus dan luka robek pada kaki kiri kena serpihan bom rakitan, Latif Latuconsina (25) meng­alami luka robek pada paha sebelah kiri dan perut sebelah kiri kena bom.

Kemudian Muhammad Jafnur Salampessy (18) mengalami luka robek pada paha sebelah kiri, lengan kanan, telapak kaki kanan, luka robek dada sebelah kiri akibat kena bom, serta Abdullah Tuankota (19) mengalami luka robek pada betis sebelah kiri juga karena bom.

Sedangkan pada Sabtu (11/2) dinihari sekitar pukul 02.00 WIT, salah satu orang korban luka bernama Kaimudin Latupono (21), yang mengalami luka robek pada punggung sepanjang 10 cm dan dalam 3 cm akibat bacokan, dibawa ke RSU Tulehu.

Selain itu, ribuan warga meng­ung­si ke Negeri Rohomoni, Dusun Ori, Negeri Kariu, dan Negeri Kailolo.

Informasi dari kepolisian menye­butkan, warga yang mengungsi ke Kailolo berjumlah 1.053 orang. Se­dangkan di Rohomoni berjumlah 628 orang. Sementara yang mengungsi di Dusun Ori dan Negeri Kariu belum diketahui jumlah yang pasti.

Kerugian materil juga belum bisa dipastikan nilainya, namun rumah yang terbakar mencapai kurang lebih 300 unit.

Sementara informasi lainnya menyebutkan, bentrok yang terjadi antar warga di Negeri Pelauw dipicu oleh penentuan tanggal peresmian rumah adat Salampessy depan dan Salampessy belakang. (S-32)



Berita Terkait


Ambon