Kawasan Konservasi Air tak Boleh Berubah Fungsi

Kawasan Konservasi Air tak Boleh Berubah Fungsi

Ambon - Kepala Bidang Kerjasama Bappeda Provinsi Maluku, Djalaludin Salampessy mengatakan, kawasan-kawasan yang mestinya menjadi kawasan konservasi air tak boleh berubah fungsi.

Oleh sebab itu pemerintah daerah khususnya pemerin­tah kota (Pemkot) Ambon me­rasa perlu untuk menata kem­bali lingkungan ekosistem karena Pulau Ambon adalah pulau yang kecil dan juga ting­kat kepadatannnya sema­kin meningkat terutama untuk wilayah Kota Ambon atau tepatnya di Jasirah Leitimur.

“Jasirah Leitimur meru­pakan jasirah yang terpadat dan setiap hari jasirah Leiti­mur menjadi berubah fungsi ekosistemnya, dimana kawa­san-kawasan yang menjadi kantong-kantong konservasi air berubah fungsi secara ber­tahap dan perlahan-lahan,” ungkapnya, kepada Siwa­lima, Senin (12/11).

Dikatakan, akibat dari kon­flik kemanusiaan yang terjadi beberapa waktu lalu, mem­buat pola pemukiman ber­ubah fungsi dan dampaknya mulai dirasakan pada musim hujan.

“Saat musim hujan, ada daerah-daerah tertentu yang tergenang air bahkan terjadi banjir sebab pada waktu hu­jan turun dan tidak lagi me­rembes dan masuk ke dalam ta­nah dan saat musim panas tiba maka sumber-sumber air mengalami penurunan yang drastis, sumur PDAM turun airnya sehingga jika air tidak jalan bukan semata-mata PDAM-nya yang tidak berfungsi dengan maksimal tetapi karena air tanahnya sudah tidak ada,” ungkapnya.

Menurutnya, ada kawasan-kawasan yang harus ditata dan tidak boleh berubah fungsinya. Oleh sebab itu diharapkan bagi masyarakat yang saat ini telah menempati kawasan-kawasan konservasi air, haruslah diting­katkan fungsinya agar supaya bisa berfungsi sebagai daerah-daerah tangkapan air, dengan ada dua cara dimana untuk setiap rumah yang hendak di­bangun harus membuat sumur resapan dan diwajibkan untuk menanam pohon bagi setiap rumah yang sudah terlanjur dibangun.

“Itu cara yang harus dilaku­kan oleh masyarakat untuk merehabilitasi kawasan dan juga tidak boleh ada pene­bangan-penebangan pohon terutama pada daerah-daerah aliran sungai atau daerah-dae­rah tangkapan air. Ini semua dilakukan  untuk kepentingan kota yakni kepentingan air ber­sih untuk menjamin kehidupan warga kota,” pintanya.

Dikatakan, jika kita tidak mengambil langkah-langkah untuk merehabilitasi ekosis­tem, mungkin dalam jangka waktu tiga atau empat tahun, kota ini sudah tidak bisa lagi menyediakan air bersih untuk dikonsumsi oleh warga kota maupun aktivitas lainnya se­hingga mungkin kita akan meng­gunakan teknologi de­ngan pola air laut menjadi air untuk dikonsumsi dan sebagainya, tetapi ada konsekuensinya yakni biaya yang besar, namun hal itu akan terjadi jika memang seluruh sungai sudah kering, sumur-sumur pompa PDAM sudah terjadi rembesan air asin maka tidak ada pilihan lain.(S-16)



Berita Terkait


Ambon