Visi ›› Kelangkaan Minyak Tanah

Kelangkaan Minyak Tanah

Minyak Tanah (Mitan) mulai langka di Kota Ambon. Tidak hanya langka, tetapi harga pun melonjak drastis. Jika sebelumnya harga Mitan 5 liter Rp 16 ribu-17 ribu, kini war­ga mendapati di sejumlah agen bahkan kios 5 liter senilai Rp 25-30 ribu.

Pada sejumlah titik,  mitan yang dibeli warga hanya se­­cukup­nya saja. Stok yang disediakan agen penyalur bahkan kios-kios penjual terbatas. Nampak pula antrean panjang warga berjubel untuk mendapatkan mitan. Seperti yang terjadi di lokasi Pasar Lama Kecamatan Sirimau, warga di sekitar itu antre, meskipun demikian per­se­diaannya  juga tidak mencukupi.

Hal ini jika tidak diatasi secepatnya, dikhawatirkan bisa meluas dan berdampak semakin tingginya kelangkaan tersebut.

Bagaimana situasi seperti itu bisa terjadi pada masa sekarang? Dapatkah dijelaskan bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya. Apakah ada persoalan di produksi ataukah di distribusi. Yang jelas, tidak ada alasan untuk membiarkan kelangkaan mitan terus terjadi, dan tidak ada pula alasan bagi pemerintah atau dalam hal ini Pertamina untuk tidak mampu mengatasinya.

Dalam persoalan kelangkaan minyak tanah ini, sering kali banyak pihak saling melempar tanggung jawab. Pada akhirnya sulit dijelaskan, apa sebenarnya yang terjadi. Untuk masalah ini, pemerintah tak boleh main-main. Sebab, minyak tanah termasuk komoditas vital dan stra­tegis serta dipergunakan oleh masyarakat yang ber­penghasilan kecil.

Dugaan sementara mengatakan ada kesengajaan pihak-pihak tertentu untuk mengambil sebagian dari kuota minyak tanah yang disubsidi. Apalagi motifnya, kalau bukan mencari keuntungan. Jika dugaan ini benar, maka aparat kepolisian disarankan untuk melakukan peng­usutan, jangan sampai ada oknum-oknum pengusaha atau agen yang menimbun mitan untuk mencari ke­un­tungan dan memanfaatkan kelangkaan tersebut dengan menaikan harga mitan yang demikian melambung tinggi.

Bagaimana pun hal itu tak boleh dibiarkan, dan se­sungguhnya tidak sulit pula bagi aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian untuk melacak kondisi terjadinya kelangkaan mitan di Kota Ambon. yang sudah berjalan dua bulan ini dan terkesan ada proses pembiaran baik dilakukan Pertamina maupun pemerintah.

Pertamina mesti bertanggung jawab  terhadap kelang­kaan yang terjadi, karena kenyataan dilapangan sejumlah agen-agen mitan justru mengeluh stok mitan dikurangi. Ini bukan main-main, sebab sebagai komoditas vital dampak permasalahan seperti itu bisa meluas. Tidak hanya dampak ekonomi, tetapi juga sosial, politik, dan sebagainya.  Karena

Pertamina dan pemerintah harus secepatnya menjawab masalah tersebut. Ukuran keberhasilan atau citra sebuah pemerintahan sebenarnya tergantung kepada urusan-urusan pelayanan rakyat kecil seperti ini. Maka, mau tidak mau, kelangkaan mitan terlepas dari apa penyebabnya, tidak boleh terjadi.

Betapa penting menguasai jaringan distribusi untuk komoditas seperti mitan. Pemain swasta, terutama pe­dagang, tak harus dimatikan perannya, namun harus tetap diawasi ketat, agar mereka tak menyeleweng. Barang-barang dengan harga subsidi rawan terhadap penye­lewengan seperti itu, sebab pedagang pun selalu melihat besarnya peluang meraup keuntungan besar.. Ba­gaimanapun juga, tindakan pelanggaran seperti itu harus dipatahkan. Dan Pertamina tentu mempunyai pengalaman untuk tidak bisa dibodohi, kecuali jika ada orang dalam yang justru ikut bermain. Prinsipnya masyarakat mengharapkan kelangkaan mitan harus secepatnya diatasi dan jangan dibiarkan terus berlarut. (*).



Berita Terkait


Ambon