Daerah ›› Klasis Kota Lakukan Koinonia Keesaan

Klasis Kota Lakukan Koinonia Keesaan


Ambon - Klasis Kota Ambon melakukan koinonia keesaan ke Jemaat Tomalehu Timur, Klasis Seram Barat, di Pulau Manipa, Kabupaten SBB.

Koinonia keesaan itu dipimpin langsung oleh Ketua Klasis Kota Ambon, Pendeta N Rutumalessy, yang berlangsung 12-15 Oktober lalu, yang dihadiri oleh 98 orang yang terdiri dari Sekretaris Klasis, Sekbid TPPU, Sekbid Pos, panitia, Pendeta Abe Okhman, para tukang dari jemaat-jemaat, dokter umum, tenaga medis, tenaga penyuluh pertanian, tenaga penyuluh dari Disperindag Maluku serta sanggar Malorin.

Ketua Klasis Kota Ambon, Pendeta N. Rutumalessy, dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, menjelaskan, pihaknya memberikan apresiasi atas penerimaan yang hangat dari seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat di Manipa.

 “Sesungguhnya apa yang dilakukan ini bukan untuk menampilkan kehebatan dari klasis kota, melainkan wujud hidup persaudaraan yang saling berbagi, luka di masa lalu saat konflik tak mesti lagi diingat sebab yang terpenting sekarang adalah menata hidup persaudaraan untuk masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Dikatakan, kegiatan ini mendapat respons positif dari para pemuka agama dan tokoh adat yang menghadiri malam kekerabatan ini. Salah seorang tetua Adat sekaligus tokoh Muslim dari salah satu negeri menyampaikan sebuah pernyataan yang menarik bahwa ‘Kami bukan sagu salempeng patah dua, melainkan sagu salempeng patah tujuh, artinya bahwa tujuh negeri ini tidak hanya sekedar berbagi hidup, tetapi lebih daripada itu, ada nilai solidaritas hidup bahwa susah dan senang, semua sama-sama rasa,” ujarnya.

Dikatakan, beliau juga menegaskan bahwa tali persaudaraan di tanah Haika Lima Hena Luaka ini tidak boleh diputuskan, sebab siapa yang melakukannya akan bertanggungjawab dunia dan akhirat. Jika diartikan secara mendalam, maka pernyataan ini mengandung makna imperatif bagi seluruh masyarakat Manipa untuk membangun komitmen bersama dalam merawat relasi hidop orang basudara.

Spirit ini sesungguhnya hidup dan bertumbuh dalam kehidupan masyarakat di Maluku, termasuk dalam konteks perbedaan di Pulau Manipa. Dengan mengacu pada realitas ini, maka Gereja Protestan Maluku juga turut menghidupkan konsep Gereja Orang Basudara.

Sementara itu, Ketua Panitia, Roy Mongi mengatakan, jenis kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari itu yakni penanaman anakan cabe pada kebun jemaat, malam puji-pujian bersama jemaat Tomalehu Timur, suguhan tampilan seni oleh sanggar bersama dengan potensi jemaat dan desa tetangga, pemeriksaan kesehatan, sunatan massal, baptisan massal, serta pembangunan Gedung Gereja Jemaat Tomalehu Timur berupa pekerjaan plesteran menara lonceng, pembuatan tangga lantai dua koncistori, pembuatan kolom beton penyangga lantai dua kuncistori.

Selain itu, Mongi menambahkan bantuan yang diberikan pada kegiatan tersebut yakni anakan cabe sebanyak 300 anakan, buku lagu nyanyian GPM 30 buah, buku nyanian rohano 30 buah, pemberian bantuan berupa uang sebesar Rp 1 juta masing-masing kepada mesjid di desa tetangga, semen 100 sak, obat-obatan serta alat peraga bagi SMTPI. (S-16)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon