Ambon - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku didesak untuk mempercepat proses rujukan ke rumah sakit di luar Provinsi Maluku bagi empat korban bentrok berdarah saat arak-arakan Obor Pattimura, 15 Mei 2012 lalu.
Hal ini disebabkan empat korban, yaitu Bryan Huliselan, Marlon Berhitu, Jery Siahaya dan Yongky Talakua harus mendapatkan perawatan lanjutan di Jakarta akibat tidak adanya ahli tulang dan ahli pembuluh darah di Ambon.
“Mereka berempat merupakan korban bentrokan 15 Mei itu, yang masih tetap rawat di RSUD Haulussy. Mereka memang harus rujuk ke Jakarta namun masih menunggu janji Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku yang menjanjikan hal tersebut,” jelas Butje Huliselan saat mendatangi redaksi Siwalima Ambon, Jumat (27/7).
Menurut Butje yang merupakan orang tua dari Bryan Huliselan, janji Pemprov Maluku untuk merujuk empat korban tersebut ke rumah sakit di Jakarta harus dipercepat untuk merehabilitasi kesehatan para korban.
“Mereka ini harus dirujuk ke Jakarta. Kami dapat informasi langsung dari rumah sakit bahwa pemerintah kekurangan anggaran, sehingga anjurkan kami untuk gunakan askes. Memang penanganan di RSUD Haulussy sudah bagus, namun kondisi tulang-tulang para korban yang mengalami patah tangan, patah kaki serta urat nadi terputus itu yang harus ditangani langsung oleh ahlinya,” ungkapnya.
Menurutnya, perhatian pemerintah sekarang ini terhadap para korban yang masih di rawat di RSUD Haulussy semakin berkurang. (S-19)