Hukum ›› Martha Dicecar 6,5 Jam Tindak Pidana Pertambangan Gunung Botak

Martha Dicecar 6,5 Jam


Ambon - Kepala Dinas ESDM Maluku, Martha M Nanlohy dicecar selama 6,5 jam oleh tim penyidik Direktorat Tipidter Bareskrim Polri, Kamis (10/1).

Martha ‘digarap’ terkait tindak pidana pertambangan di Gunung Botak, Gogrea dan Sungai Anahoni, Kabu­paten Buru. Pemeriksaan berlangsung di ruang Indag Ditreskrimsus Polda Maluku, Mangga Dua.

Ini untuk pertama kalinya, Martha diperiksa dalam ta­hap penyidikan.

Informasi yang diperoleh, Martha mendatangi Kantor Ditreskrimsus sekitar pukul 09.40 WIT, dan langsung me­nuju ruang indag.

Pemeriksaan dimulai sekitar pukul 10.00 WIT oleh tim penyidik Direktorat Tipidter Ba­reskrim yang diketuai oleh Kombes Sulistyono, mantan Direktur Res­krim Polda Maluku. Ia didampingi AKBP Jarot Setiyoso, Kompol Sumarsono, AKP Parmanto, Bripka Phlegon dan Bripda C. T. Wibowo.

Wanita berambut pendek yang bia­sanya terlihat judes itu tak ber­kutik saat dicecar. Malah, ia kebi­ngungan menjawab pertanyaan tim penyidik.

Saat jam istirahat,  orang dekat Gu­bernur Maluku, Said Assagaff dalam pengolahan tambang emas di Kabupaten Buru ini,  memilih makan di dalam ruang penyidik. “Ibu kadis memilih makan di ruang pemerik­saan,” kata sumber di Polda Maluku.

Sekitar pukul 16.30 WIT peme­riksaan selesai. Tak lama kemudian mobil kijang innova hitam DE 1131 berplat merah merapat di depan ruang indag untuk menjemput Martha.

Memilih ke Korea

Martha sebelumnya dipanggil pada Selasa (27/11) 2018 lalu, bersama Kabid Pertambangan Dinas ESDM Maluku, June Pattkawa, untuk menghadap penyidik Bares­krim Kompol Eko Susanda di Kantor Ditreskrimsus Polda Maluku, namun ia abaikan.

Martha memilih berangkat ke Korea untuk jalan-jalan, ketimbang me­menuhi panggilan penyidik Bares­krim. Martha tak sendiri ke Korea. Ia juga membawa orang dekatnya Flantina Talle, serta beberapa pe­gawai honor yang selama ini membantunya. 

Flantina Talle adalah orang dekat Martha di Dinas ESDM Maluku. Rekening atas nama keduanya yang dipakai untuk menampung kucuran uang miliaran rupiah dari PT BPS.

Ia malah meminta agar Kabid Pertambangan Umum Dinas ESDM Maluku, June Pattikawa saja yang mewakilinya di penyidik Bareskrim.

“Ibu kadis ke Korea bersama ibu Talle dan rombongan, katanya nanti ibu June yang mewakili di bares­krim,” kata sumber di Dinas ESDM Maluku, kepada Siwalima.

Sumber itu juga mengung­kapkan, selain Flantina Talle dan beberapa pegawai honor, ikut juga teman-teman alumni Martha dari SMA Negeri 1 Ambon angkatan 81 ber­jumlah 24 orang. Mereka berangkat sejak Jumat 23 November, dan akan kembali pada Kamis, 29 November.

Setelah June, penyidik  memeriksa Karo Hukum Setda Maluku Henry Far-Far, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku Vera Tomasoa dan Kepala Dinas PMP­TSP Maluku, Fauzan Chatib, pada Rabu (28/11).

Kabid Humas Polda Maluku, Kom­bes M Roem Ohoirat yang di­konfi­r­masi Siwalima, mengatakan, peme­riksaan Martha masih sebagai saksi.

“Benar, tadi itu pemeriksaan se­bagai saksi keterkaitannya dengan kasus Gunung Botak. Ini peme­riksaan ditingkat penyidikan yang dilakukan tim penyidik Bareskrim di Kantor Reskrimsus Polda Maluku,” jelas Ohoirat.

Disinggung soal penetapan ter­sangka, Ohoirat enggan berko­men­tar. Ia mengatakan, perkembangan penanganan kasus ini akan disam­paikan dalam keterangan pers, hari ini, Jumat (11/1). “Besok akan di­sam­paikan keterangan secara resmi,” ujarnya.

Selain Martha, informasi yang ber­edar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku, Vera Tomasoa, dan anak buahnya, Kabid Amdal Roy Siauta dan Ahmad Sangadji juga diperiksa. Namun Ohoirat mengaku, yang ia tahu hanya Martha yang diperiksa.

Vera yang dihubungi juga me­ngaku, sementara berada di luar Ma­luku. “Maaf nona saya lagi di Yogja,” katanya.

Sedangkan Roy Siauta mem­ban­tah, kalau ia diperiksa. Namun ia meminta untuk hari ini baru memberi penjelasan.

“Oh Maaf tidak. Ini saya di jalan, besok saja baru saya jawab kan tidak etis di jalan,” ujar Roy, seraya menutup telepon genggamnya.

Police Line

Diberitakan sebelumnya, tim Tipidter Bareskrim Mabes Polri memasang police line di lokasi pengolahan emas PT Prima Indonesia Persada (PIP) dan PT Sinergi Sahabat Setia (SSS) di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Rabu (9/1).

Sebelumnya, langkah yang sama dilakuhan terhadap PT Buana Pratama Sejahtera (BPS).

Tim itu dipimpin Kombes Sulis­tyono. Mantan Direktur Reskrim Polda Maluku ini datang ditemani AKBP Jarot Setiyoso, Kompol Su­marsono, AKP Parmanto, Bripka Phlegon dan Bripda C. T. Wibowo.

Usai melihat-lihat aktivitas di PT PIP, tim langsung melaksanakan pemasangan police line di tempat pengolahan. Empat alat berat, yakni tiga exsavator dan satu doser juga turut disita dan di-police line.

Kemudian di pintu pagar masuk ke PT PIP, tim memasang papan pem­beritahuan bertuliskan PT Prima Indonesia Persada dalam proses pe­nyelidikan Dit Tipidter Bareskrim Polri. Dasar: LP/A/25/1/2019/BA­RES­KRIM  Tanggal 7 Januari 2019.

Sekitar pukul  11.60 WIT, rombo­ngan Sulistyono meninggalkan PT PIP menuju PT SSS yang letaknya hanya berdekatan.

Di sana tim hanya mema­sang papan pemberitahuan yang ter­tulis PT Sinergi Sahabat Setia dalam proses penyelidikan Dit Tipidter Ba­reskrim Polri. Dasar: LI/124/X/2018 Tipidter Tanggal 5 Oktober 2018.

Tim lalu meninggalkan PT SSS dan kembali lagi ke PT PIP pada pukul 12.11 WIT. Tim bergerak cepat de­ngan membuat berita acara penye­rahan barang bukti yang telah di-police line.

Tim juga bekerja maraton dengan memeriksa empat karyawan PT PIP. Kepada para karyawan diingatkan  agar menjaga apa yang sudah di-police line.

Diingatkan pula agar jangan coba-coba merusak barang bukti atau memindahkannya. Segala aktivitas di perusahaan itu harus dihentikan.

Di PT PIP, tim bekerja sampai sore hari. Lalu menuju PT BPS yang se­dang mati suri akibat sudah berhenti beroperasi dari tiga bulan lalu.

Di anak perusahaan milik Eddy Winata itu, tim hanya memasang  papan peringatan yang tertulis PT Buana Pratama Sejahtera dalma proses penyelidikan DIT Tipidter. Dasar: LP/A/1495/XI/2018/Bares­krim Tanggal 15 November 2018.

Sebelumnya tim Tipidter Bares­krim Mabes Polri memasang police line di lokasi pengolahan emas milik PT BPS di Wasboli, Kecamatan Teluk Kayeli, dan juga lokasi pasir emas di Sungai Anahoni, pada Selasa (4/12).

Beberapa aset milik PT BPS yang dipasang police line, antara lain gu­dang pembakaran karbon hasil pe­ngolahan emas atau pemurnian emas, stok file, bak air dan bak pengolahan metode rendamam, alat berat exsa­vator, doser dan tempat galian pertama PT BPS di  Sungai Anahoni. (S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon