Hari silih berganti dan bulan pun bertukar mengubah hidup dan kehidupan hingga sampailah kita berada di bulan sya’ban. Semerbak Ramadhan kian terasa saat bulan Sya’ban terus berganti dan tanpa sadar berlari meninggalkan kita meretas hari dan waktu tanpa perlu kita menghitung dalam hitungan panjang kehidupan.
Ramadhan tiba sebentar lagi..! Saat, di mana upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan Ramadhan ibarat bulan hadiah dan bulan yang penuh dengan sentuhan lembut dari Yang Maha Memberi Rahmat kepada makhluk-Nya. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Sesungguhnya Allah mempunyai anugerah untuk disebarkan pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu, berusahalah untuk mencarinya. Barangkali salah seorang di antara kalian akan menemuinya sehingga dia tidak akan pernah menderita lagi untuk selama-lamanya” (HR. Ath-Thabrani).
Oleh karena itu, datangnya bulan Ramadhan merupakan sesuatu yang diharapkan oleh para pecinta Ramadhan. Bahkan Nabi dan para sahabatnya begitu mempersiapkan diri sejak dini. Beliau SAW biasa mempersiapkan diridalam menyambut bulan puasa jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan ketika beliau melihat awal bulan Rajab, dua bulan sebelum Ramadhan, beliau telah mempersiapkan diri secara ruhani. Beliau menundukkan hati dan menancapkan niat yang suci melalui doanya: “Allaahummaa bariklanaa fii Rajaba wa Sya’ban, wa balighnaa Ramadhaan.” yang artinya Yaa Allaah,berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan. (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).
Beliau dengan khusyuk memohon kepada Allah agar memberkahi dirinya dan kaum muslimin di dua bulan menjelang Ramadhan. Tanpa keberkahanini, tentulah hari-hari kita akan berkurang nilainya, apalagi dalam rangka menyongsong bulan yang penuh pahala dan ampunan dari Allah swt. Demikianlah Rasulullah saw. yang telah menjadikan bulan Rajab sebagai titik tolak, sebagai bulan pencanangan untuk menyambut Ramadhan.
Bulan Ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan kita masuki, adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat yang paling tinggi, paling mulia: derajat taqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183). “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat: 13).
Predikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.
Persiapan Diri Sejak Dini
Sejumlah hal yang mesti perlu dipersiapkan bagi para pelaksana puasa agar bulan Ramadhan menjadi sarana yang efektif melahirkan insan Taqwa. Kalau boleh dianalogkan bahwa di dalam bulan Ramadhan itu adalah kontes perhelatan meraih taqwa maka para peserta kontes layak dan wajib melakukan persiapan-persiapan diri sedini mungkin. Olehnya itu, minimal ada tiga hal penting dalam mempersiapkan menyambut kedatangan Ramadhan.
Pertama, Persiapan Ruhani dan Jasadi. Dengan cara mengkondisikan diri agar pada bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat, dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti: lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.
Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban ini dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif. ‘Aisyah Radhiyallahu‘anha berkata: “Rasulullah SAW berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: “Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama’ hadits, lihat Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain). Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban.
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: “Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini? Beliau saw menjawab: “Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR An-Nasa-i).
Kedua, Persiapan Fikri (Persepsi). Persiapansecarapersepsi atau pemikiran ini sangat penting bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung bukan sembarang bulan. Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu: (1). Setiap mukmin mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan; dan (2) Setiap mukmin dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.
Dalam mempersiapkan diri menyongsong Ramadhan perlu kaum mu’min membekali diri dengan ilmu yang memadahi tentang seluk beluk puasa Ramadhan. Karena itu, kajian tentang fiqh Puasa perlu mendapat perhatian serius untuk dilaksanakan sehingga setiap pelaksana Puasa memahami dengan benar bagaimana wajibnya puasa, hal-hal yang membatalkan dan sebagainya. Minimnya pemahaman tentang Puasa di bulan Ramadhan dapat mengakibatkan timbulnya sejumlah fenomena di kalangan kaum muslimin. Sebagai contoh, masih ada yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan hanya tiga hari, padahal Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa Beliau berpuasa selama sebulan di dalam bulan Ramadhan. Lantas mereka yang melaksanakan puasa hanya tiga hari itu mencotohi siapa? Persepsi inilah yang terus mesti perlu diluruskan dengan berbekal ilmu.
Selain itu, persepsi tentang keutamaan bulan Ramadhan perlu juga ditumbuhkan di kalangan ummat. Ketika datang bulan Ramadhan, sejak malam pertama Allah SWT membuka pintu-pintu syurga, menutup pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. Maka datanglah anugerah dari Allah dengan diperintahkannya malaikat untuk menyerukan kepada seluruh umat manusia: “wahai orang-orang menginginkan kebaikan, datanglah …! Wahai orang-orang yang menginginkan kejahatan, menyingkirlah …!” maka tiba-tiba saja reaksi yang sangat cepat terjadi di mana-mana. Masjid-masjid penuh dengan orang-orang yang mengerjakan shalat, dari jendela-jendela dan pintu-pintu terdengar suara adzan dan lantunan ayat-ayat suci al Qur’an. Orang-orang pun rajin mengeluarkan sedekah dan berlomba untuk menghatamkan Al Qur’an yang mulia.
Sebuah kesempatan emas yang sangat langkah, penuh dengan rahmat dan maghfirah. Karena itu, jika kita tidak mampu mendapatkan rahmat pada saat-saat itu lalu kapan lagi kita akan mampu meraihnya?. Jika kita tidak mampu meraih sebagai hamba yang mendapatkan ampunan, lalu kapan lagi kita akan meraih ampunan itu? Jika ibaratnya Ramadhan adalah lautan yang suci dan kita telah menceburkan ke dalamnya namun kita tidak mampu menjadi suci, lalu apa yang akan mampu mensucikan kita?
Ketiga, Persiapan Materi. Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.
Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu ‘anhu: “Sungguh, Rasulullah saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan”. (HR Muttafaqun ‘alaih).
Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.
KIAT MENGISI RAMADHAN
Setahun sekali bulan Ramadhan hadir di tengah kita. Namun, tidak dijamin apakah bulan Ramadhan tahun yang akan datang kita masih bisa bertemu dengannya. Oleh karena itu, sejumlah kiat dan sarana untuk memaksimalkan ibadah puasa di bulan Ramadhan bisa kita lakukan antara lain :
1. Puasa yang baik dilakukan dengan motivasi karena Allah.
Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan: “Semua amal ibnu Adam adalah untuknya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi AKU, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah SWT daripada minyak misik”. (lihat Shahih Bukhari hadits no: 1904, dan lihat Shahih Muslim hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).
2. Disunnahkan bagi yang berpuasa agar memperlambat makan sahur, dan mempercepat berbuka.
“Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan”. (HR Muslim). “Mintalah pertolongan dengan makan sahur agar dapat berpuasa disiang harinya, dan dengan tidur siang, agar dapat qiyamul-lail di malam hari”. (HR Ala Hakim). “Ada tiga hal yang dicintai Allah ‘Azza wa jalla: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat”. (HR Ath-Thabarani). “Manusia akan selalu dalam keadaan baik, selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Muslim).
3. Berdo’a ketika berbuka.
“Bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, do’anya tidak ditolak (HR Ibnu Majah).
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku beriman, dahaga telah hilang, urat-uratpun telah membasah danpahala telah Engkau tetapkan insya Allah ta’ala. Ya Allah yang Maha Luas karunia-Nya, ampunilah aku, segala puji bagi Allah, yang telah memberikan pertolongan kepadaku, sehingga aku dapat berpuasa dan yang telah memberikan rizqi kepadaku, sehingga aku dapat berbuka”.
4. Memberikan makanan untuk orang yang berbuka puasa.
“Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan yang berpuasa itu tidak dikurangi pahalanya sedikitpun” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
5. Menjaga mata, telinga dan lidah serta anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang tidak ada faedahnya, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.
“Barang siapa yang tidak menjauhkan kata-kata dan perbuatan bohong, maka Allah tidak menerima puasanya”. (HR Bukhari).
“Bisa jadi orang yang qiyamul-lail itu hanya mendapatkan meleknya saja dan bisa jadi orang yang berpuasa itu hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja” (HR Ahmad, Ath-Thabarani dan Al Baihaqi dari Ibnu Umar, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan redaksi sedikit berbeda).
6. Memberikan perhatian yang lebih besar, baik moral ataupun material kepada keluarga dan sanak famili serta memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.
“Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau saw lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika bertemu Jibril ‘Alaihis-Salam, sungguh, kedermawanan beliau saat itu lebih kuat daripada angin yang bertiup” (HR Muttafaqun ‘alaih).
7. Meningkatkan kajian tentang Islam, tadarrus, tila
wah dan tela’ah Al Qur’an, dzikir, do’a dan amal-amal kebajikan lainnya (QS Al Baqarah: 183 – 187).
“Dan Jibril ‘Alaihis-Salam menjumpai nabi saw pada setiap malam bulan Ramadhan,dan beliau mengajaknya bertadarrus Al Qur’an”. (HR Muttafaqun ‘alaih).
8. I’tikaf pada ‘Asyrul Awakhir (10 hari terakhir bulan Ramadhan) dan meningkatkan aktifitas ibadah pada hari-hari tersebut.
“Nabi saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), beliau membangunkan keluarganya dan beliau menjauh dari istrinya”.
9. Meningkatkan kesadaran bermuroqobah, merasa diawasi terus oleh Allah swt yang Maha Mengetahui, dan selalu menyadari bahwa diri kita t engah berpuasa, tengah beribadah dalam rangka mencapai ketaqwaan.
“Dan agar kamu mengagungkan Allah sesuai dengan apa yang ditunjukkan kepadamu” (QS Al Baqarah: 185).
10. Pandai menentukan skala prioritas amal islami dengan mengutamakan amal yang lebih penting, lebih banyak manfaatnya dan lebih cepat mengantarkannya ke syurga, baik berupa berjuang di jalan Allah dalam menegakkan kalimat-Nya ataupun berinfaq fi sabilillah, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya.
Ketika orang-orang minta dispensasi dari berinfaq dan berjihad, Rasulullah saw bersabda: “Tidak bershodaqah, dan tidak berjihad? Jadi, dengan apa kamu ingin masuk syurga?
Itulah beberapa persiapan diri sejak dini dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan. Marhaban yaa syahrul mubarak. Selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan, selamat meraih Taqwa. Sudarmo, SP, MSi
Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera