Kriminal ›› Polisi Diminta Ungkap "Pemain" Konflik Porto-Haria

Polisi Diminta Ungkap "Pemain" Konflik Porto-Haria


Ambon - Konflik warga Porto dan Haria di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) yang berulang kali terjadi bukan terjadi begitu saja. Aparat kepolisian sendiri sudah mengetahui kalau ada pihak-pihak tertentu yang bermain untuk terus memicu warga negeri bertetangga itu terlibat baku hantam.   

Karena itu, pihak kepolisian diminta untuk mengungkap mereka yang selama ini bermain dalam konflik Porto-Haria. 

Permintaan ini disampaikan Direktur Eksekutif Economyc Reform Institute (MOERI), Tammat R. Talaohu kepada Siwalima, Jumat (1/3), di Ambon.

Ia meminta aparat kepolisian untuk tidak sebagai pemadam kebakaran, namun harus ada gebrakan untuk menangkap provokator. “Setiap kali terjadi penembakan terhadap warga maupun aksi pele­dakan bom, selalu dikatakan yang melakukannya adalah orang tidak dikenal  (OTK), lalu dimana peran intelijen,” tandas Talaohu.

Dikatakan, terjadinya aksi penem­bakan maupun peledakan bom se­perti yang terakhir di Porto-Haria merupakan kelemahan polisi yang tidak menerapkan strategi dan tindakan preventif.

Talaohu juga menghimbau warga di wilayah Lease terutama di Porto-Haria untuk tidak terpancing dengan ulah provokator yang ingin mem­bawa masyarakat kedua negeri ke jurang kehancuran.

Saatnya harus dipikirkan untuk menapak masa depan yang lebih baik, bukan terperosok dalam perang yang tidak ada untung, malah hasil yang didapat adalah yang menang jadi arang dan kalah jadi abu. “Jadi  tidak ada yang untung,” ujar Talaohu.

Untuk mengatasi berbagai konflik di wilayah Lease (Saparua, Haruku dan Nusalaut), menurutnya, Lease harus memiliki polres sendiri.

“Pembentukan Polres Lease meru­pakan kebutuhan mendesak yang harus dipikirkan Polda Maluku. Pembentukan Polres Lease  untuk memperpendek rentan kendali juga dimaksudkan untuk memberikan pelayanan perlindungan secara prima dan cepat kepada warga saat dibu­tuhkan perlindungan,” kata Talaohu.

Sudah Kondusif

Sementara Wakapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Kompol Suratno kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (1/3), mengungkapkan, situasi keamanan Negeri Porto-Haria sudah kondusif.

Suratno mengatakan, Kapolres bersama Kabag Ops, dan sejumlah perwira Polres, Kamis (28/2) lalu sudah turun ke Porto dan Haria guna mengecek kondisi keamanan di sana. “Sudah ada upaya untuk me­mediasi kedua desa untuk penyele­saian dan kemarin sampai sekarang sudah tidak ada lagi ketegangan dan sudah aman,” jelasnya.

Kendati begitu, kata dia, personil polisi masih tetap disiagakan di kedua negeri tersebut.

“Personil  yang sudah tetap di sana ada dua SST Brimob dengan Polsek ada sekitar 70 personil dan yang kemarin bersama kapolres hanya satu regu saja  dari polres. Yang jelas kita normatif  lakukan upaya-upaya pen­dekatan, penjagaan kedua desa dan kalau pelanggaran hukum diproses hukum,” tandas Suratno.

Hanya saja sambung Suratno, semuanya dikembalikan ke masya­rakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi.

Sebelumnya diberitakan, kondisi keamanan di Negeri Porto dan Haria kembali bergejolak. Lagi-lagi, pemi­cunya adalah tawuran antar seke­lompok siswa Sekolah Menengah Ke­juruan (SMK) Saparua, yang ter­jadi Rabu (27/2) sekitar pukul 12.30 Wit.

Tawuran antar sekelompok siswa SMK Saparua yang kebe­tulan berasal dari Negeri Porto dan Haria itu, berimbas ke kedua negeri. 

Informasi yang diterima Siwalima, Kamis (28/2) menyebutkan, tawuran yang terjadi akibat saling ejek itu, mengakibatkan dua siswa SMK Saparua asal Porto mengalami luka akibat kena lemparan batu dan terkena pukulan. Disaat tawuran terjadi, terd­ngar ledakan bom yang cukup dahsyat di petuanan Negeri Tiouw, sekitar 2 Km dari Porto-Haria.

Situasi sempat kondusif. Na­mun pada malam harinya sekitar pukul 21.05 Wit terjadi lagi tiga kali ledakan bom. Aparat keamanan yang ditu­gas­kan di Porto-Haria sempat mela­kukan penyisiran hingga pukul 23.00 Wit. Namun tidak ada pelaku pele­dakan bom yang diringkus.

Selanjutnya, sekitar pukul 23.40 hingga Kamis (28/2) pukul 06.30 Wit terjadi lagi beberapa kali ledakan bom diikuti dengan rentetan tem­bakan senjata api, yang memicu terjadinya saling  baku lempar antara warga kedua negeri.

Akibat kejadian tersebut sejumlah rumah warga Porto dan Haria meng­alami kerusakan, termasuk ruang kelas VI SD di Haria. Bahkan rumah warga yang dipakai sebagai pos brimob juga mengalami kerusakan.

Wakapolres Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Kompol Suratno yang dikonfirmasi wartawan membe­narkan peristiwa tersebut. Menurut Suratno, terjadinya ketegangan antara Porto dan Haria hanya dipicu dari tawuran siswa pada siang hari dan satu kali ledakan bom di petuanan Tiouw.

“Itu hanya awalnya tawuran antar pelajar di SMK Saparua kemudian terjadi ketegangan. Kemudian karena ada ledakan bom rakitan tepatnya di Tiouw dua kilo dari Porti dan Haria,” kata Suratno.

Suratno yakin bahwa ada provokasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu. “Kita sudah olah TKP dam mene­mukan adanya serpihan-serpihan bom rakitan tersebut. Juga ada upaya untuk provokasi,” ujarnya. (S-26/S-27)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon