Kesra ›› Rusuh di Gunung Botak, 2 Tewas, 3 luka

Rusuh di Gunung Botak, 2 Tewas, 3 luka

Namlea - Kerusuhan ternyata juga terjadi di lokasi tambang, Gu­nung Botak, Desa Wamsalit, Kabupaten Buru yang me­nyebabkan dua tewas dan sejumlah orang dilaporkan menderita luka-luka.

Hingga Selasa malam (14/5) situasi di lokasi kejadian masih mencekam. Ribuan penambang yang berada di lokasi penambangan memilih mengungsi ke Namlea, ibu­kota Kabupaten Buru.

Untuk menghindar diri dari aksi kerusuhan itu, ribuan pe­nambang berjalan kaki pulu­han kilometer baru mendapat kendaraan angkutan umum menuju Namlea.

Ribuan lagi harus berjalan kaki menuju Desa Kayeli. Se­telah itu mereka silih berganti menuju Namlea dengan me­ng­gunakan transportasi laut.

Bupati Buru Ramli Umasugi dan muspida terjun langsung ke TKP guna menenangkan situasi di sana. Aparat ke­amanan, dari unsur kepolisian dan TNI-AD bersenjata leng­kap juga sudah diterjunkan   ke TKP.

Bupati Ramli Umasugi me­minta agar masyarakat mena­han diri dan tidak terpro­vo­kasi insiden tersebut. Ia juga menyatakan rasa sesal yang mendalam atas terjadinya insiden di Gunung Botak tersebut dan turut menyampaikan rasa bela­sungkawa atas korban meninggal maupun luka-luka.

Sementara itu, data yang dihim­pun Siwalima di TKP menyebutkan, satu korban meninggal diketahui bersama S Lesilawang, warga asal Selasi, Kecamatan Ambalau, Kabu­paten Buru Selatan.

Korban tewas itu ditikam di punggung belakang dengan tombak dan terdapat luka bacokan parang juga ditubuhnya. Jenazah korban telah dievakuasi melalui Desa Kayeli untuk dipulangkan ke Desa Selasi, Ambalau.

Ongen Behuku, satu saksi mata kepada wartawan di Desa Wamsalit mengisahkan, selain korban yang sudah diketahui identintasnya itu, masih ada lagi satu korban tewas yang masih berada di lokasi galian tambang dan belum diketahui identitasnya.

Sementara pihak RSU Namlea saat ini sementara merawat tiga korban luka-luka yang menjadi korban di gunung Botak. Satu korban dike­tahui Bernama A. Bugis, warga Desa Tial, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah.

“Dia baru sehari datang di Wam­salit dengan tujuan hendak mencari saudaranya. Tapi belum ketemu saudaranya dia sudah jadi korban konflik di gunung botak,” jelas salah satu kerabat korban A Bugis.

Data yang berhasil dikumpulkan di TKP terungkap, insiden keru­suhan terjadi di lokasi tambang Blok C Gunung Botak.

Konflik itu dipicu dari perebutan jatah menjaga pintu masuk pemuda Ambalau dengan Soa Nurlatu, Senin (13/5), sekitar pukul 17.00 WIT.

Ketika itu, kelompok pemuda dari Soa Nurlatu yang menjaga pintu masuk lokasi tambang di Blok C didatangi kelompok pemuda Amba­lau. Kelompok Ambalau bermasuk untuk mengambil alih menjaga lokasi tersebut. Sedangkan kelompok dari pe­muda Soa Nurlatu ogah menye­rahkan tanggung jawab tersebut, karena merasa belum 24 jam mereka bertugas di sana.

Hal itu berlanjut dengan perteng­karan mulut. Salah satu warga Am­balau yang belum diketahui identi­tasnya sempat menikam linggis ke salah satu pemuda Soa Nurlatu.

Masalah itu kemudian hendak didamaikan oleh salah seorang ke­pala soa. Namun gagal karena masing-masing kelompok sudah sama-sama panas.

Peristiwa penikaman pemuda Nurlatu ini hanya dalam tempo singkat diketahui masyarakat adat Waeapo, sehingga terjadi pengum­pulan massa.

Dengan membekali diri dengan parang dan tombak, masyarakat adat melakukan sweeping dan mencari warga Ambalau yang berada di lokasi tambang.

Sialnya, S Lesilawang yang berusaha menyingkir dari lokasi gunung botak pada Rabu pagi sudah duluan disergap dan ditikam.

Karena massa yang brutal tadi, be­berapa warga yang tidak tahu pokok masalahnya juga menjadi korban penikaman dan pembacokan. (S-31)



Berita Terkait


Ambon