Daerah ›› Senator Serukan Tolak Investasi Perkebunan Sawit Nusa Ina Ingkar Janji

Senator Serukan Tolak Investasi Perkebunan Sawit


Masohi - Wakil Ketua Komite II DPD Anna Latuconsina menyerukan Pemkab Malteng dan warga Negeri Latea untuk tidak lagi menerima investasi perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut.

Seruan tersebut diungkapkan senator asal Maluku itu, menyusul ingkar janjinya manaje­men perusahaan perke­bunan PT Nusa Ina kepada warga pemilik lahan sejak perusahaan tersebut beroperasi di Ne­-geri Latea hingga saat ini.

“Sejak awal saya meng­-ingatkan pemerintah dan masyarakat Malteng bahwa invetasi perke­bunan sawit itu tidak akan membawa berkah. Justru yang ada nantinya itu kerusakan lingkungan dan  kekeringan. Cukup sudah sampai di PT Nusa Ina saja, jangan ada lagi investasi kelapa sawit di wilayah Malteng,” tandas Latuconsina kepada wartawan di kantor Bupati Malteng, Kamis (22/10).

Latuconsina juga mendesak Pemkab Malteng untuk memediasi masalah yang terjadi antara warga dengan manajemen PT Nusa Ina, termasuk gaji karyawan yang sudah empat bulan terakhir ini belum juga dibayarkan.

“Masalah konpensasi PT Nusa Ina dengan warga Negeri Latea juga harus menjadi perhatian serius pemkab,” ungkapnya.

Ia mengaku sangat menyesal terhadap kondisi yang menimpa warga Negeri Latea saat ini, apalagi sejak dulu dirinya telah memperingatkan dampak investasi perkebunan kelapa sawit yang dilakukan PT Nusa Ina.

Senada dengan Latuconsina, Wakil Bupati Malteng Marlatu Leleury berjanji akan menelusuri semua perizinan investasi yang dilakukan PT Nusa Ina khususnya di Negeri Latea.

“Pemkab akan melakukan kajian khusus terkait investasi PT Nusa Ina. Mulai dari perijinan hingga persoalan belum direalisasikannya kewajiban perusahaan bagi karyawan, pemilik lahan dan masyarakat yang bermukim di wilayah investasi. Semua perijinannya pun akan kita telusuri,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jika kedapatan izin prinsip perusahaan tidak terpenuhi, maka pemkab tidak segan-segan memberi sanksi.

Sebelumnya diberitakan, aktivitas PT Nusa Ina yang dimiliki Sihar Sitorus, Senin (19/10) akhirnya ditutup paksa oleh warga Dusun Marehunu Negeri Latea.

Aksi penutupan paksa PT Nusa Ina ini dilakukan secara adat oleh warga dengan menggunakan bambu runcing berikatkan kain berang atau kain adat, yang bermakna ‘perang’.

Sasi adat ini menyusul sikap manajemen PT Nusa Ina yang dinilai hanya menebar kebohongan belaka, sehingga warga kini merasa terjajah di negerinya sendiri.

Mulai dari janji untuk membagi hasil panen kepala sawit dengan prosentase 70 : 30 persen, pemasangan sambungan listrik yang terus menyala selama 24 jam, sambungan air bersih, pembangunan perumahan bagi warga dan lain sebagainya yang sampai detik ini tidak pernah direalisasikan oleh perusahaan milik Sihar Sitorus itu. (S-36)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon