Ambon - Sultan Ternate, Mudhafar Syah mengaku, dirinya sama sekali tidak menyetujui bila Pemerintah Indonesia mengistimewakan Kesultanan Yogyakarta diistimewakan dari kesultanan lainnya di Indonesia.
“Kalau berbicara mengenai daerah Kesultanan Yogyakarta yang mau diistimewakan, saya menolak, waktu rapat dengan Mendagri, sebab kalau hanya untuk keistimewaan Kesultanan Jogyakarta saya tidak setuju, karena kesultanan banyak di Indonesia,” ungkap Syah dalam sambutannya pada acara Musyawarah Besar (Mubes) Himpunan Ikatan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) yang berlangsung di Baileo Siwalima, Sabtu (16/7).
Menurutnya, dirinya akan lebih setuju, jika seluruh daerah kesultanan di Indonesia harus mendapatkan perlakuan khusus dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.
“Pemerintah RI atau DPR RI, saya katakan, bahwa seluruh sultan harus ditetapkan, bukan hanya untuk Yogyakarta saja, sebab ini juga menyangkut dengan perasaan, terlebih saya selaku Ketua Forum Persatuan Nusantara, tidak ingin menyinggung perasaan para sultan yang lain,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, kedepannya, berbagai hak kesultanan sebelum era proklamasi bisa dikembalikan lagi dan tidak terus dicukur habis.
“Jadi kekuasaan apa yang diberikan kepada Sultan, kita bicara, bukan setelah proklamasi lalu dengan sepucuk surat Presiden, menterilah, lalu hak-hak kita semua habis dicukur, ini yang ingin saya kembalikan dan hal itu sudah saya sampaikan kepada Presiden, tetapi itu terserah, sebab harus ada pertimbangan-pertimbangan,” tuturnya.
Pemerintah Bingung
Sementara itu di sisi lain, menurut Syah, saat ini pemerintah RI, masih kebingungan mencari sistem demokrasi yang tepat, dan selamanya tidak akan bisa mencapai hal tersebut. Bahkan demokrasi tidak akan dicapai di Indonesia, karena hingga saat ini sebagian besar masyarakat Maluku belum memahami apa itu demokrasi yang sebenarnya.
“Kenapa, sebab di Jawa tidak ada demokrasi, karena paham mereka iyalah, negara itu aku, beda dengan paham kita, engkau adalah aku dan aku adalah engkau, sehingga kita sama. Jadi bukan sultan yang lebih tinggi, tidak. Sebab, sultan juga adalah rakyat yang menentukan, bukan seperti di Jawa yang tua mesti jadi,” tandasnya.
Dikatakan, sampai saat ini, demokrasi yang diterapkan masih jauh dari harapan dan cenderung lebih banyak menciptakan berbagai sisi konflik yang selalu menghancurkan dan bukan sebaliknya mempersatukan. “Mereka-mereka yang dulunya berkekurangan tetapi mendapat beasiswa dan pergi kuliah di Amerika kemudian pulang membawa demokrasi, hasilnya kita bentrok terus, tidak ada satu hari pun tanpa demonstrasi sekarang ini,” tandasnya. (S-35)