Pendidikan ›› Tetelepta: Penggunaan Dana BOS SDN 67 Sesuai Aturan Ancam Proses Hukum Titirloloby

Tetelepta: Penggunaan Dana BOS SDN 67 Sesuai Aturan

Ambon - Penggunaan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) pada sekolah SD Negeri 67 Ambon dilakukan sesuai dengan peruntukkannya dan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.

Hal ini ditegaskan Kepala SDN 67, Ny. Martha Tetelepta saat mendatangi Kantor Redaksi Siwalima, Selasa (24/1).

“Penggunaan dana BOS pada sekolah kami itu digunakan sesuai dengan mekanismenya, sehingga tidak benar jika dikatakan saya menggunakan dana BOS untuk kepentingan pribadi, karena itu tidak benar,” jelas Tetelepta.

Dijelaskan, dana BOS yang diterima SDN 67 pada Januari 2011 lalu untuk ta­hunajaran 2011/2012 senilai Rp 20.401.000, yang digunakan untuk mem­biayai komponen kegiatan-ke­giatan yang sifatnya operasional sekolah.

Ada 13 item penggunaan dana BOS, pada point 5 penggunaan dana tersebut disebutkan, pembeliaan bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol, kertas bahan praktikum, buku induk siswa dan buku inventaris, langganan koran, majalah pendidikan, minuman dan makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah serta pengadaan suku cadangan alat kantor.

“Atas dasar ini guru-guru di SDN 67 dalam rapat bersama sepakat untuk uang minuman itu tidak dipakai tetapi digunakan beli batik, karena ins­truksikan hari Kamis menggunakan batik dan itu instruksi dari pusat sehingga saya kebetulan ke Jakarta satu kali dan saya ke Surabaya itu dan saya membeli batik, tetapi itu atas kesepakatan bersama dan uangnya bukan juga dibeli dengan menggu­nakan dana BOS, karena uang ada di bendahara dan bukan di saya,” ungkapnya.

Tetelepta juga mengungkapkan, ada sembilan guru honor pada sekolah SDN 67 Ambon, di mana keha­diran sembilan guru honor tersebut  sudah ada sebelum dirinya bertugas di SDN 67 pada Januari 2011 lalu, itupun para guru honor ini belum memperoleh gaji mereka.

“Ada 9 guru honor, mereka ini datang sendiri dan mengajar secara gratis mereka ini sudah ada sebelum saya bertugas di SDN 67 sejak Januari 2011 lalu, dan honor yang diperoleh itu juga sebesar Rp 150 ribu. Guru-guru ini merupakan guru honor lepas yang datang sendiri untuk mengajar, ketika saya bertugas di sekolah ini mereka sudah ada dan saat saya ta­nya­kan guru-guru soal mereka, itu dija­wabkan mereka guru honor lepas dan tidak boleh dibayar, sehingga ka­mi memberikan Rp 150 ribu,” beber­nya.

Selain itu, kata Tetelepta, SDN 67 Ambon dipersiapkan sebagai sekolah berbasis budaya, di mana budaya Maluku harus menjadi prioritas utama untuk terus dilestarikan, karena itu ia kemudian memintakan pelatih dari luar sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengajarkan siswa-siswi di SDN 67.

Tetelepta mengakui, dirinya me­ngeluarkan kebijakan untuk mem­bayar honor mereka sebesar Rp 500 ribu, namun bukan dari dana BOS.

Dari dana BOS hanya dikeluarkan Rp 200 ribu. Sedangkan sisanya ditanggung oleh komite kelas yang sudah dibentuk, dan itupun belum bayar.

“Kita pakai guru honor kesenian karena yang punya keahlian untuk mengajarkan tari-tarian seperti tarian katreji, lenso dan sebagainya, karena sekolah ini dipersiapkan jadi sekolah berbasis budaya, sehingga sekolah ini sering tampilkan budaya-budaya Maluku, sehingga kami tidak mungkin bayarkan Rp 100 ribu atau Rp 150 karena pasti orang tidak ingin ajar anak-anak kami, makanya diberikan Rp 500 ribu dan guru-guru yang juga membantu untuk memberikan latihan juga diberikan uang dan itu uang pri­badi saya bukan dana BOS,” tegasnya.

Sebelumnya, salah seorang orang tua siswa, Obet Titirloloby dalam release-nya yang diterima redaksi Siwalima, beberapa hari lalu, me­nuding Tetelepta menggunakan dana BOS SDN 67 untuk berdagang pakaian batik yang dibelinya dari luar Maluku.

Menurut Titirloloby, banyak ke­jang­galan dan menimbulkan keke­cewaan dari para orang tua murid sejak pergantian mantan Kepsek dari S Picauly ke Ny. Martha Tetelepta.

Bagaimana tidak, kebijakan-kebi­jakan yang dilakukan Tetelepta ber­be­da jauh dengan Picauly dan hanya ter­kesan mementingkan kepen­ti­ng­annya tanpa mementingkan kepen­tingan sekolah dan masa depan siswa.

Titirloloby menjelaskan, di tahun ajaran 2011/2012 ini dana BOS senilai Rp 20.401.000 diduga dipakai oleh Te­telepta dengan melakukan penjualan pakaian batik sebanyak dua kali.

Tetelepta dua kali meninggalkan sekolah untuk menjalankan bisnisnya. Baju batik yang dibelinya dari Jakarta dijual dengan harga per buah Rp 175.000 kepada 30 guru dan pegawai di SD tersebut.

Dari hasil penjualan tersebut Tetelepta meraih keuntungan men­capai Rp 3.250.000. karena laris, Tetelepta kemudian melanjutnya misi berbisnisnya dengan membeli batik dan menjualnya kembali dengan harga Rp 200.000 per buah.

Hasil penjualan itu Tetelepta men­dapat keuntungan sebesar Rp 6.000.­000, sehingga total keuntungan yang diraut oleh Tetelepta sebesar Rp 9.250.000

Uang sebanyak ini kemudian dipa­kai Tetelepta untuk menikmati masa liburan semester gasal kemarin di Surabaya.

Titirloloby juga mengungkapkan, Tetelepta menggunakan dana BOS untuk biaya transportnya setiap hari sebesar Rp 50.000 yang diambil dari bendahara dana BOS. Tak hanya itu, Tetelepta juga mendatangkan guru honor guna mengajar mata pelajaran kesenian dengan upah yang dibayar Rp 500.000 per bulan, sementara guru honor yang sudah bertahun-tahun di SD tersebut hanya diberi gaji Rp 100.000 per bulan.

Anehnya gaji guru honor yang didatangkannya itu, tidak dibayar secara keseluruhan dari dana BOS melainkan diambil dari uang senin siswa dari kelas 1-6.

“Ini sangat mengecewakan kami orang tua murid. Kepala Sekolah harusnya tidak berbisnis di sekolah karena itu bukan tempatnya. Dalam rapat bersama orang tua murid kami mencoba untuk bertanya dan mengemukakan keluh kesah kami, tetapi tidak diberikan kesempatan oleh Kepsek,” tukas Titirloloby

Tetelepta yang sudah hampir 40 tahun menjadi guru ini mengancam akan memproses hukum Obet Titirloloby, karena telah mencemarkan nama baiknya.

Titirloloby ternyata adalah juga suami dari Ny. Junita Karompau yang adalah guru titipan dari Hatu, Ka­bupaten Maluku Tengah (Malteng) yang bertugas di SDN 67 Ambon.

Komisi II Bakal Panggil

Komisi II DPRD Kota Ambon bakal memanggil Kepala SDN 67 Ambon, Ny. Martha Tetelepta, terkait adanya dugaan penggu­na­an Dana BOS untuk kepentingan pribadinya, seperti yang dituduh­kan Obet Titirloloby.

“Kalau memang ada dugaan ter­sebut, terhadap penggunaan Dana BOS, ini merupakan hal yang salah sehingga nanti ketika rapat internal komisi saya akan usulkan untuk panggil,” ujar Wakil Ketua Komisi II, Achmad Ohorella kepada Siwalima di Baileo Rakyat Belakang Soya, Selasa (24/1).

Ohorella mengatakan, semestinya dana BOS digunakan sesuai per­untukkannya, bukan untuk kepen­tingan pribadi. (S-19/S-34)



Berita Terkait


Ambon