Daerah ›› Uskup Sol, Mencintai Maluku Hingga Akhir Hayat

Uskup Sol, Mencintai Maluku Hingga Akhir Hayat


Suasana duka kini menyelimuti umat Katolik di Keuskupan Amboina. Uskup Emiritus Amboina, Mgr Andreas Petrus Cornelis Sol, MSC meninggal dunia, Sabtu (26/3). Ia meninggal di usia 100 tahun 5 bulan 5 hari.

Uskup Sol begitu sapaan  akrabnya selama ini dikenal  sebagai sosok sederhana, pendoa yang tekun, pencinta alam, pencinta buku, pencinta sepeda, pencinta anak-anak, penulis yang hebat, perintis pendidikan dan kesehatan, serta pencair kebekuan dalam dialog agama-agama di Indonesia.

Uskup Sol dilahirkan 19 Oktober 1915 di Amsterdam-Sloten Belanda, dari pasangan Cornelius Johannes Sol dan Maria Anna Elisabeth Ruhe. Ia dibatis 20 Oktober 1915 di Gereja Paroki Nocolaas en Barbara-Amsterdam. Pada tahun 1931-1934, Uskup Sol mulai masuk seminari menengah MSC di Driehuis.

Selanjutnya 20 September 1934, Uskup Sol masuk novisiat MSC di Berg en Dal. Setahun kemudian pada 21 September 1935, Uskup mengikrarkan profesi (Kaul) membiara pertama, dan di tiga tahun selanjutnya 21 September 1938 ia ikrarkan kaul kekal.

Pada tahun 1938, Sol menjalani kuliahnya filsafat di Arnhem dan teologi di Seminari Tinggi MSC di Stein, dan ditahbiskan sebagai imam pada 10 Agustus 1940.

Uskup Sol memulai praktek pastoralnya di Arnhem pada tahun 1941-1942, dan pada tahun 1942-1946 ia menjadi guru di seminari menengah Driehuis. Salah satu muridnya dalam bidang studi bahasa latin adalah Jan Van Paassen MSC.

Sebagai imam muda Andreas Sol memilih berkarya di Brasil kala itu, sehingga ia giat mempelajari bahasa Portugis, tetapi ternyata batal diberangkatkan ke sana karena pecahnya Perang Dunia II. Setelah perang dunia mereda, ia malah ditawari bertugas di Indonesia, suatu penugasan yang diterimanya dengan penuh ketaatan.

Atas ketaatannya itu, pada tanggal 5 Oktober 1946, ia menjadi Pastor Paroki Hollat-Haar, Kei Besar, atas penunjukkan Vikaris Apostolik Amboina Mgr Jacobus Grent MSC saat itu. Ia menjadi pastor paroki disana hingga tahun 1949.

Sepanjang tahun 1950-1959 Uskup Sol menjadi pemimpin (superior) daerah MSC Maluku dan sekaligus sebagai pengurus persekolahan Katolik di Langgur. Di tahun 1960-1963 ia menjabat sebagai Administrator Provinsial MSC Indonesia yang berkedudukan di Jakarta.

Namun 10 Desember 1963, Vatikan mengumumkan Pater Andreas Sol diangkat menjadi Uskup Koadjutor Keuskupan Amboina dan ditahbiskan 25 Februari 1964.

Pada tahun ini Sol, mendirikan perpustakaan Rumphius. Kehadiran perpustakaan ini menandakan perhatiannya di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Atas usaha dan jasanya itu Uskup Sol, dianugerahi penghargaan dari Perpusatakan Nasional.

15 Januari 1965, Sol memangku jabatan sebagai Uskup Keuskupan Amboina menggantikan Mgr Jacobus Grent, MSC.

Hampir seluruh hidupnya ia abadikan di Indonesia khususnya di Maluku, dan selain melayani umat dan masyarakat dalam bidang rohani, karya misionernya diarahkan pada bidang pendidikan dan kesehatan. Ia mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah serta panti asuhan, ia memberikan adopsi bagi ribuan anak-anak miskin untuk bisa mengecap pendidikan di Maluku. Hingga pada tahun 1994, Uskup Sol memasuki masa pensiunnya dan digantikan oleh Mgr PC Mandagi MSC.

Mencintai Maluku

Uskup Sol, menderita sakit sesak nafas sejak Kamis (24/3) pukul 03.00 WIT , ia sempat dibawa ke RSUD Haulussy Ambon pukul 07.30 WIT namun karena ruangan penuh maka ia dirujuk ke Rumah Sakit dokter Latumeten.

“Kita semuanya tentunya berduka dengan kehilangan seorang pemimpin yang sangat setia sepertinya,” kata Uskup Diosis Amboina Mgr P. C Mandagi MSC kepada Siwalima di sela-sela kegiatan jalan salib, Sabtu (26/3).

Dikatakan, Uskup Sol menderita sakit karena jantungnya yang lemah. “Beliau sudah dirawat di RST selama dua hari, awalnya ke RSU tetapi karena penuh jadi dirujuk ke RST. Ia seorang pemimpin yang setia. Tidak gampang menjadi seorang pemimpin seperti dia,” katanya.

Menurut Uskup Mandagi, sangatlah tidak gampang menjadi seperti Sol, dimana dalam suka dan duka ia selalu setia. Dia banyak memberi kepada yang lemah dan miskin, banyak motivasi umat, dan motivasi itu adalah power of love.

“Cintanya bagi Maluku, kesetiannya sebagai pemimpin sampai akhir. Dengan motto semua bersatu berarti ia menekankan adanya persaudaraan dan persatuan, lintas agama. Ia benar-benar tokoh pemimpin yang sangat luar biasa bagi kami. Cinta sampai akhir itu yang ia perlihatkan bagi kita,” ungkap Uskup.

Dikatakan, Uskup Sol melihat Maluku penuh dengan berbagai perbedaan, tapi tidak boleh dibedakan.

“Jadi bagaimana orang miskin perlu di perhatikan, bahkan ia juga banyak berbuat. Memberikan perhatiannya bagi pendidikan, dan mendirikan perpustakaan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Maluku Said Assagaff turut berdukacita atas berpulangnya Uskup Emeretus Andreas Sol. “Saya dan Pemprov Maluku turut berduka cita karena Uskup Sol punya jasa yang cukup besar bagi Maluku. Beliau juga sudah memberikan kontribusi yang besar bagi daerah ini,” ujarnya.

Dikatakan, melalui keimanannya yang cukup tinggi ia bisa mempersatukan basudara samua yang ada di Maluku. Ia merupakan pastor yang berdedikasi dalam membangun daerah ini. jasanya tak bisa di lupakan. “Bagi saya ia adalah pastor sejati yang berdedikasi dalam membangun daerah ini, saya berharap agar bisa muncul uskup yang baru yang bisa mengikuti beliau,” katanya.

Setelah disemayamkan semalam di Gereja Hati Kudus Yesus di kawasan Batu Gantung, sejak Minggu (27/3) siang, jenazah Uskup Sol disemayamkan di Katedral Amboina hingga Kamis (31/3).

Disetiap malam pukul 19.00 WIT akan dilaksanakan misa requiem oleh setiap paroki, komunitas religius dan kelompok kategoria.  Uskup Sol akan dimakamkan Kamis (31/3) di komleks pemakaman Susteran PBHK Ahuru. Selamat jalan Uskup Emeritus Amboina Mgr Andreas Petrus Cornelis Sol, MSC.(Nancy Bubun)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon