Jakarta - Walikota Ambon, Richard Louhenapessy memaparkan kondisi Kota Ambon beberapa bulan terakhir ini, akibat bencana alam yang terjadi, kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Rabu (4/7).
Walikota memaparkan kondisi Ambon, dihadapan Sekretais Utama BNPB Fahcrul Hady serta sejumlah direktur. Sementara hadir saat pemaparan itu, Ketua dan Wakil Ketua DPRD serta anggota Komisi III, Kadis PU Kota, Broery Nanulaita; Kepala BPBD Kota, Broery Tjokro; Kadis Kebersihan dan Pertamanan, Morits Lantu; Asisten II Sekkot, Piet Saimima.
Dalam pemaparannya, Walikota mengatakan, intensitas hujan terjadi di Ambon sangat tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya longsor, banjir, maupun keretakan tanah di hampir seluruh kecamatan di Kota Ambon.
Kondisi tersebut terjadi sejak bulan Mei hingga Juni dan telah memakan 21 korban jiwa maupun harta benda ditambah lagi dengan pergeseran tanah di kawasan Batu Gajah yang mengakibatkan keretakan rumah warga.
“Bahkan akibat longsor dan keretakan tanah, mengakibatkan 253 KK yang terdiri dari 99 jiwa telah mengungsi, pasca bencana alam yang terjadi di Kota Ambon,” jelas Walikota.
Dikatakan, dengan adanya peristiwa-peristiwa itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon telah melakukan sejumlah langkah penanganan, di mana berkoordinasi dengan TNI AD, Basarnas, Tagana, camat, lurah/kepala desa dan ketua-ketua RT untuk melibatkan anggota atau aparaturnya bersama warga untuk melakukan penggalian/evakuasi serta pembersihan lokasi longsoran.
“Kita juga telah memberikan bantuan makanan dan minuman siap saji kepada para pengungsi, serta memberi santunan kepada warga yang keluarganya meninggal dunia sebesar Rp.50 juta,” ungkapnya.
Menurut Walikota, untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam akibat curah hujan yang tinggi, maka pemkot telah mengeluarkan pernyataan tanggap darurat dan ini telah disampaikan lewat media cetak maupun elektronik kepada warga untuk tetap waspada.
Sementara untuk keretakan tanah di kawasan Batu Gajah, pihaknya telah menurunkan tim geologi dari LIPI dan ITB Bandung. “Saya berharap dengan adanya pemaparan tentang kondisi real yang terjadi di Kota Ambon tersebut, maka ada perhatian serius dari BNPB untuk dapat membantu pemkot agar dapat menanggulanginya,” harap Walikota
Sementara itu, Sekretaris Utama BNPB Facrhul Hady, mengatakan, pihaknya dapat membantu pemkot, namun Peraturan Daerah (Perda) tentang Badan Penanggulangan Bencana Kota Ambon harus dipercepat untuk disahkan.
“Sesuai aturan kalau perdanya belum disahkan kita tidak bisa berikan bantuan apa-apa,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, sekalipun pelaporan yang disampaikan ke pemerintah daerah ke BNPB semuanya harus diverifikasi dengan mempertimbangkan untuk memberikan bantuan. Pelaporan saat bencana terjadi juga harus dilakukan pemerintah daerah melalui BPBD kepada pihaknya satu kali dua empat jam, sebab kebanyakan terjadi ada kabupaten/kota yang datang melaporkan kejadian bencana yang sudah terjadi sejak enam bulan lalu. Sehingga ketika pihaknya melakukan verifikasi ternyata kenyataan riil dilapangan berbeda, maka pemberian bantuan juga dipertimbangkan.
“Tahun kemarin kita seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia menyampaikan laporan dan jumlah biaya 32 triliun, namun dana yang dimiliki BNPB hanya 1,6 trilyun bantuan yang diberikan bagi daerah-daerah yang menjadi prioritas. Ada juga kabupaten/kota yang belum menyelesaikan pelaporan administrasi, sehingga tidak bisa memberikan bantuan karena BNPB juga harus membuat pertanggungjawaban pemakaian anggaran,” ujarnya. (S-34)