Daerah ›› Warga Taniwel Tolak Perkebunan Kelapa Sawit

Warga Taniwel Tolak Perkebunan Kelapa Sawit


Ambon - Warga Kecematan Taniwel dan Taniwel Timur  Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) menolak rencana pemerintah kabupaten membuka perkebunan kepala sawit di kecamatan tersebut.

Ketua Walang Aspirasi Rakyat Maluku, Kristian Sea mengatakan, rencana perkebunan kelapa sawit yang akan dilakukan di kedua kecamatan tersebut akan memberikan dampak buruk bagi masyarakat setempat.

“Warga sangat menolak penanaman kelapa sawit di daerah itu. Sebab akan menyusahkan warga yang ada di Kecamatan Taniwel dan Taniwel Timur.  Tak hanya itu, masyarakat juga tidak bisa berbuat apa-apa dan akan mati diatas kesenangan orang lain,” ujarnya saat mendatangi Kantor Redaksi Siwalima, Selasa (23/9).

Dijelaskan, lahan yang akan digunakan untuk pembukaan kelapa sawit sekitar 260 hektar, dimana satu hektar dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 800 ribu.

Selain itu, lanjutnya, Pemkab SBB tidak pernah melakukan komunikasi dengan masyarakat dan juga para saniri negeri membicarakan masalah tersebut, dan hanya dengan raja dan camat saja.

Kata dia, masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Maluku dapat berkoordinasi dengan Pemkab SBB terkait penolakan perkebunan kepala sawit tersebut.

Sebelumnya juga, tokoh masyarakat Kabupaten SBB asal Kecamatan Taniwel, Nathanel Elake menilai, Bupati SBB, Jacobus Puttileihalat tidak menghargai adat istiadat masyarakat setempat, terutama di Kecamatan Taniwel Timur dalam hal pembukaan areal perkebunan kelapa sawit.

“Bupati harus melihat Taniwel Timur itu sebagai Suku Waimale menganggap tanah itu sebagai Tuhan. Karena itu tanah tidak bisa diperjual belikan dan tidak bisa digunakan untuk kepentingan yang tidak mengakomodir rakyat,” kata Elake kepada Siwalima di Ambon, Kamis (18/9).

Menurutnya, ekspansi perkebunan sawit bukan hal yang menguntungkan rakyat, malah menyusahkan rakyat dan itu terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Olehnya kata Elake, perusahaan kelapa sawit seharusnya mensosialisasikan hal itu terlebih dulu kepada masyarakat Taniwel Timur dan bukan bupati.

Sebelumnya, Bupati SBB menegaskan, tak ada masalah soal pembukaan perkebunan kepala sawit di Taniwel Timur. Pasalanya, hal itu dilakukan demi kepentingan rakyat.

“Saya kira tidak ada masalah dengan perkebunan kepala sawit, karena itu para raja-raja yang usulkan,” jelas bupati kepada sejumlah wartawan usai menghadiri pengambilan sumpah dan janji anggota DPRD Maluku, di Kantor DPRD Maluku, Karang Panjang Ambon, Selasa (16/9), menanggapi berbagai tanggapan publik bahwa, kebijakan Pemkab SBB membuka perkebunan kelapa sawit tersebut tidaklah tepat.

Ia meminta, masyarakat SBB untuk tidak mempunyai intepretasi  yang berbeda, karena sebetulnya pembukaan perkebunan SBB bukan diusulkan oleh pemkab, tetapi dari kepala-kepala desa/raja,” katanya.

Untuk perkebunan kepala sawit sendiri, lanjut bupati, sudah ada master plan yang telah disetujui oleh DPRD Kabupaten SBB, sehingga harus segera dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.

Untuk perkebunan kepala sawit tersebut, kata bupati, sudah siap karena pihaknya sudah masuk dalam percepatan perluasan kawasan ekonomi khusus.

Kata dia, kebijakan pembukaan perkebunan sawit di Kecamatan Taniwel Timur tersebut sudahlah  tepat. Dimana kawasan tersebut yang awalnya adalah kawasan hutan sudah telah dilakukan pelepasan kawasan hutan oleh Menteri Kehutanan, sehingga melalui master plan kawasan ekonomi Indonesia maka sudah pasti akan mendapatkan bantuan insfrastruktur jalan dan jembatan yang tentu saja sangat membantu masyarakat. (Cr-2)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon