Daerah ›› Warga Ultimatum Manajemen Nusa Ina Sitorus Diberi Waktu Sepekan

Warga Ultimatum Manajemen Nusa Ina


Masohi - Warga Negeri Latea, Kecamatan Seram Utara Barat meng­ultimatum pemilik PT Nusa Ina paling lambat sepekan untuk memenuhi janji-janji yang selalu diingkari selama ini.

Kepala Adat Marga Ma­re­hunu, Negeri Latea, Philipus Kakilete yang adalah pemilik lahan perkebunan kelapa sawit PT Nusa Ina menegaskan tidak akan membuka sasi adat yang telah dipasang Kantor Pusat PT Nusa Ina hingga pemilik perusahaan tersebut, Sihar Siturus datang dan bertemu dengan warga.

Bukan itu saja, Kakilete juga mendesak Sitorus untuk me­rea­lisasikan semua janji ke­pada warga termasuk membayar gaji karyawan PT Nusa Ina yang sudah empat bulan terakhir ini belum dibayar.

“Kita hanya memberikan waktu sepekan bagi pemilik PT Nusa Ina Sihar Sitorus agar datang ke Dusun Marehunu, Negeri Latea, Kecamatan Se­ram Utara  Barat guna menun­taskan semua janji kepada warga. Jika dalam waktu satu pekan mendatang yang ber­sangkutan tidak menemui warga, maka semua lahan perkebunan kelapa sawit milik warga  Negeri Latea yang saat ini te­lah ditanami harus dikosong­kan dalam waktu satu kali 24 jam,” tandas Kakilete kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (20/10).

Ia juga mengancam siapa­pun yang menghalangi upaya pengambilan ulang lahan lelehurnya yang saat ini telah dikelola menjadi perkebunan kelapa sawit oleh  PT Nusa Ina, jika kemudian pemilik perusahaan Sihar Sitorus tidak menepati janjinya  seba­gaimana  awal proses pen­carian lahan beberapa tahun lalu.

“Solusinya adalah kita ha­rus mengambil alih ulang la­han. Jangan coba-coba ada pihak yang ingin menjadi pahlawan untuk melindungi perusahan dalam hal meng­halangi pemilik lahan untuk menarik ulang lahan-lahan tersebut,” ungkapnya.

Dikatakan, upaya mengo­songkan lahan perkebunan kelapa sawit harus dilakukan jika perusahaan tidak mau memenuhi semua janji yang disebutkan.

“Semestinya langkah itu dilakukan, karena tidak ada keuntungan apapun bagi warga atas investasi kelapa sawit oleh PT Nusa Ina selama ini. Yang ada hanya kebo­hongan belaka,” katanya.

Ia berharap Pemkab dan DPRD Malteng dapat segera menyikapi masalah ini dengan memediasi pertemuan antara pemilik PT Nusa Ina dengan masyarakat.

Sementara itu Managemen PT Nusa Ina yang dikon­firmasi Siwalima di Masohi, Selasa (20/10) tidak berada ditempat. Sejak penutupan paksa yang dilakukan Pemilik Lahan belum dapat diketahui secara  jelas langkah PT  Nusa Ina menyikapi masalah ini.

Sebelumnya diberitakan, aktivitas PT Nusa Ina. Senin (19/10) akhirnya ditutup paksa oleh warga Dusun Marehunu Negeri Latea.

Aksi penutupan paksa PT Nusa Ina ini dilakukan secara adat oleh warga dengan menggunakan bambu runcing berikatkan kain berang atau kain adat, yang bermakna ‘perang’.

Sasi adat ini menyusul sikap manajemen PT Nusa Ina yang dinilai hanya menebar kebohongan belaka, sehingga warga kini merasa terjajah di negerinya sendiri.

Mulai dari janji untuk membagi hasil panen kepala sawit dengan prosentase 70 : 30 persen, pemasangan sam­bungan listrik yang terus menyala selama 24 jam, sam­bungan air bersih, pemba­ngunan perumahan bagi warga dan lain sebagainya yang sampai detik ini tidak pernah direalisasikan oleh perusahaan milik Sihar Sitorus itu. (S-36)



comments powered by Disqus

Berita Terkait


Ambon